Menimba Rejeki Dari Tetesan Air Hujan

Kemarin sore (Selasa – 23/01/2007) Solo hujan deras. Lumayan untuk membuat basah dan senut-senut di kulit. Kalau hujan, seperti biasa saya lepas sepatu, masukin tas kresek ganti dengan sandal jepit plus pake mantol. Tidak ada yang di luar kebiasaan, kecuali ada becak yang ketabrak mobil ??? di dekat Rutan. Rute yang biasa saya lalui kalau pulang adalah Kantor – Perempatan SE – Jl. Slamet Riyadi – Balai Kota – Pasar Gedhe – Jl. Kol. Sutarto – Rumah.

Di perempatan Panggung, ada hal yang di luar kebiasaan (yang saya lihat). Biasanya di situ cuma ada 2 atau 3 pengemis pengamen, namun kemarin ada beberapa (3-4) anak laki-laki yang telanjang dada (padahal dingin banget dan masih gerimis) berjalan di sela-sela kendaraan. Saya lihat mereka tidak membawa gitar atau icik-icik, apa mereka ngamen sambil tepuk tangan?. Seorang pengendara mobil membuka kacanya dan memberikan receh. Tiba-tiba ada salah satu dari mereka menghampiri saya dari belakang dan mengelap kaca spion motor saya tanpa permisi dan tanpa saya minta. Saya ingat dia menggunakan selembar sesobek kain putih. Saya sempat melihat beberapa pengendara lain melihat dengan tersenyum-senyum. Saya berikan receh sebagai imbalan atas usahanya mengelap spion (walaupun cuma sebelah) dan dia bilang “Matur nuwun Pak” (Terima kasih Pak). Mungkin dia tidak melihat wajah saya yang masih muda ini yang ketutup dengan kaca helm, sehingga dia memanggil saya “Pak” 😀 . He he he he.. Lampu telah kembali hijau dan saya tinggalkan anak itu untuk mencari rejeki dari tetesan air hujan di kaca atau spion kendaraan lainnya.

Sambil menyusuri sisa jalan yang harus saya tempuh, saya berpikir betapa beruntungnya bersyukurnya saya karena tidak perlu melewatkan masa kecil dengan cara seperti itu. Terima kasih Bapak. Terima kasih Ibu. Puji syukur kepada-Mu ya Alloh. Saya jadi ingat cerita Bapak saya tentang tetangga di perumahan yang memasang sticker “Ngamen, hari ini gratis besok bayar”. Bapak saya bilang, “Kalau gitu kapan bayar ke pengamennya? Kan setiap hari yang dibaca itu-itu saja!”. Terus Bapak saya juga bilang “Ya kalau yang data pengamen, kalau malaikat?”. Masalah ini dibahas di forum pengajian Bapak-Bapak dan beberapa hari berikutnya sticker itu sudah dilepas.

Berikut apa yang dinasehatkan oleh Bapak kepada saya:

Mereka, entah pengamen atau orang yang minta sumbangan sebenarnya mengantarkan pahala buat kita. Cuma kadang kita menolaknya hanya karena melihat bungkusnya, ya dalam bungkus genjrengan gitar, icik-icik atau tangan yang menengadah. Mungkin pernah kita menerima permintaan sumbangan untuk membangun masjid di Madura, tapi karena tidak ada ijin RT atau RW dan ditakuti dengan sticker “Permintaan Sumbangan Harus Seijin RT/RW”, kita tidak memberikannya. Padahal kalau katakanlah cuma nyumbang 1000 rupiah, apa mau kita nganterin duit 1000 rupiah itu ke Madura dan menjemput pahala di sana? Tidak kan? Mereka itu orang-orang yang mengantarkan pahala Alloh buat kita. Kita tidak perlu repot-repot pergi ke Madura, mereka yang mendatangi kita. Jadi kalau ada kesempatan memperoleh pahala dengan cara beramal, lakukanlah. Insya Alloh akan diberikan pahala oleh Alloh.

Benar apa yang dikatakan Bapak kepada saya, dan saya tidak meragukannya. Saya membaca buku tulisan Permadi Alibasyah?? yang berjudul “Bahan Renungan Kalbu” tentang “Obat yang salah”. Tulisan ini menguraikan tentang “obat” yang salah untuk menyembuhkan suatu “penyakit”. Salah satu contohnya adalah sebuah cerita tentang “orang kaya dan pengemis”. Dikisahkan sebuah dialog antara mereka berdua ketika si pengemis memohon sedekah kepada si kaya. Si kaya menolak dengan dasar terjemahan ayat Al-Qur’an yang berbunyi: “Alloh tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu mengubah nasibnya sendiri”, dan si pengemis menjawab pula dengan “Sesungguhnya di dalam harta orang kaya terdapat bagian orang miskin”.

He he he he..

Dialog itu hanya menyisakan kejengkelan masing-masing dan si kaya tidak memperoleh pahala, si pengemis tidak mendapat sedekah. Menurut buku ini, solusinya adalah penggunaan ayatnya dibalik. Si kaya menggunakan ayat yang disampaikan oleh pengemis dan si pengemis menggunakan ayat yang disampaikan oleh si kaya. Dengan demikian si kaya tetap bersedekah dan memperoleh pahala, si pengemis tetap memperoleh sedekah dan berusaha untuk mengubah nasibnya yang semula menengadahkan tangan untuk mengemis menjadi pemberi sedekah dan mendulang pahala dari amalnya.

Semoga Alloh senantiasa masukkan kita ke dalam golongan hambanya yang bersyukur dan beramal sholeh. Amin.

Tadi pagi.. saya melihat “Manusia Sampah”. Ya, manusia sampah. Dia adalah orang yang setiap pagi mengais rejeki dari tempat pembuangan sampah yang saya lewati setiap pagi dalam perjalanan ke kantor.

Bagaimana Prosedur Mengurus Kartu Keluarga dan KTP?

Alhamdulillah hari ini KK dan KTP saya dan istri sudah jadi. Bagaimana sih prosedur dan biayanya? Mungkin apa yang saya sampaikan ini berguna buat yang akan mengurus Kartu Keluarga terutama yang baru memulai rumah tangga baru seperti kami berdua (baru 9 bulan :D).

Surat Pindah

Karena saya berasal dari luar Solo (Klaten) dan ingin pindah ke Solo, maka saya harus mengajukan surat pindah dulu dari Klaten. Prosesnya kira-kira sebagai berikut (karens saya diuruskan oleh Bapak) adalah:
1. Pengantar RT berupa keterangan pindah
2. Pengantar dari Kelurahan berupa keterangan pindah dengan syarat no 1
3. Dari kelurahan (kecamatan??) asal, akan dibawakan surat pindah untuk kelurahan dan kecamatan tujuan


Pengantar RT

Saya dan istri saya sementara menggunakan alamat orang tua di Solo, maka perlu mengurus pengantar dari RT untuk pemecahan dan sekaligus pembuatan KK baru serta pembuatan KTP baru.
Pengantar dari RT ini selanjutnya dibawa ke Kelurahan dilengkapi dengan KK Asli yang akan dipecah + fotokopinya, fotokopi surat nikah, dan foto hitam putih, serta surat pindah.


Pemecahan dan Pembuatan KK Baru

Jika sudah mengelola rumah tangga sendiri disarankan untuk memiliki KK sendiri dan tidak ikut dengan orang tua, istilah ini disebut dengan pemecahan KK. Pemecahan ini dilakukan dengan cara mencoret/menghapus anggota keluarga yang akan masuk ke KK baru (dalam hal ini istri saya), kemudian membuat KK baru untuk orang tua dan KK baru untuk saya yang di dalamnya cuma ada nama saya dan istri. Anak belum lahir, bentar lagi neh. Doakan ya semoga lancar.

Di kelurahan diminta untuk mengisi form sebagai isian untuk pembuatan KK baru dan KTP. Setelah semua proses pengisian selesai, maka ada berkas yang dibawakan oleh kelurahan untuk disampaikan ke kecamatan.

Di kecamatan juga diminta untuk mengisi beberapa form dan membayar Rp 5.000 untuk setiap dokumen yang akan dicetak. Tidak semahal dan serumit apa yang disampaikan oleh Priandoyo di postingnya.

Saya membayar Rp 20.000 untuk mencetak:
1 KK Baru untuk saya
1 KK Baru untuk orang tua karena KK-nya dipecah
2 KTP Baru untuk saya dan istri

Proses menunggunya adalah 15 hari kerja, atau kata pegawainya kalau mau cepet juga bisa 😀 tapi bayar lebih. Setelah KK jadi, kemudian saya tanda tangani sebagai kepala keluarga dan diberi cap oleh kecamatan.

Selesai.

Karena ada kesalahan dalam penyingkatan nama istri saya (sepertinya petugas entry menyingkat atas asumsinya sendiri), maka saya harus mengajukan revisi KK dan KTP istri. Membayar Rp 5.000 dan menunggu lagi 10 hari 😀

Hari ini saya ambil hasil revisian KK dan KTP. KK sudah beres, KTP dicari-cari tidak ketemu. Mungkin karena terselip atau belum dicetak. Nunggu 15 menit sambil nulis sebagian posting ini, dan KK + KTP sudah di tangan.

Alhamdulillah, semua sudah beres sekarang. KK baru, KTP baru.. 😀

Catatan: Lokasi pengurusan di Kelurahan Jebres dan Kecamatan Jebres – Solo. Di tempat lain, harga mungkin beda.

Ditulis dalam Daily. 89 Comments »

Perlukah Mengubah Nama Domain?

Studi Kasus: alumni.uns.ac.id versus ika.uns.ac.id

Kemarin (11/01/2007) ada sebuah komentar yang menginformasikan tentang situs domain baru Ikatan Alumni UNS, yang semula berdomain alumni.uns.ac.id menjadi ika.uns.ac.id, walaupun kedua domain tersebut kalau diakses juga menampilkan situs yang sama (kenapa harus ganti domain yah?).

Setelah membaca informasi di situs Alumni UNS dijelaskan sebagai berikut:

“Organisasi Alumni Universitas Sebelas Maret didirikan pada tanggal 1 Maret 1986 dengan nama Keluarga Alumni Universitas Sebelas Maret yang disingkat “KASEMAR”.
Kemudian pada Munas III Keluarga Alumni Sebelas Maret (KASEMAR) memutuskan untuk mengganti nama KASEMAR menjadi Ikatan Keluarga Alumni UNS (IKA UNS). Adapun perubahan nama tersebut dimaksudkan untuk lebih memunculkan nama UNS karena selama ini nama Sebelas Maret tidak lebih dikenal daripada UNS. Oleh karena itu, munas akhirnya memutuskan mengganti nama menjadi IKA UNS”

Kesimpulan dari quote di atas adalah:

Bahwa penggantian (atau penambahan ??) domain ika.uns.ac.id didasarkan karena penggantian nama organisasi alumni UNS dari KASEMAR menjadi IKA UNS. (Padahal yang dulu juga tidak menggunakan kasemar.uns.ac.id :D)

–> Setelah dikonfirmasi dengan komentator, ternyata kesimpulan saya benar.

Apa sih yang akan saya bicarakan? Sederhana. Menurut saya keputusan itu tidak kurang tepat. Saya alumni UNS dan pernah mengelola situs alumni tersebut (saat saya masih jadi mahasiswa) setelah sang developer (Mas Tommy) resign dari Puslinet.

Kenapa kok kurang tepat? Berikut alasan saya:

[1] Harus Update Link

Semua pengelola situs web di UNS, harus (atau tidak??) mengupdate semua link yang menuju ke alumni.uns.ac.id menjadi ika.uns.ac.id. Termasuk yang di otak. Walaupun situs alumni tetap bisa dibuka dari kedua link tersebut. Kalau memang mau diubah, kenapa tidak di-redirect saja ke domain yang baru. Jadi search engine dan pengunjung langsung diarahkan ke domain baru. Cara redirect bisa dilihat di sini.

Anehnya link ke situs alumni di situs utama UNS (saat saya menulis posting ini – 11/01/2007) masih mengarah ke http://alumni.uns.ac.id dan tidak mengumumkannya di berita UNS. 😦

–> UPDATE: 15/01/2007 (11:00): Link ke situs alumni UNS di situs utama UNS sudah diupdate dan diarahkan ke ika.uns.ac.id.

Anehnya lagi, ada link internal situs alumni berdomain ika.uns.ac.id yang masih juga mengarah ke alumni.uns.ac.id. 😦

–> UPDATE: 16/01/2007(09:26): Link internal situs alumni berdomain ika.uns.ac.id sudah mengarah ke ika.uns.ac.id. Link internal situs alumni berdomain alumni.uns.ac.id mengarah ke ika.uns.ac.id.

[2] Nama Domain

Kalau Anda mendengar kata “alumni.uns.ac.id” pasti langsung bisa tahu bahwa domain itu adalah untuk sebuah situs alumni di uns.ac.id. Bagaimana dengan ika.uns.ac.id? Domain untuk situs web seseorang bernama ika di UNS atau ikatan alumni? Atau saya mengada-ada? Ask your self.. hehehehe

[3] Search Engine

Saya masuk ke Google dan mencari: “alumni.uns.ac.id” serta “ika.uns.ac.id”, hasil googling saya menunjukkan bahwa tidak ada dokumen untuk kata kunci “ika.uns.ac.id”.
Kata kunci “alumni UNS” (boleh dengan petik atau tidak) juga tidak menunjukkan ada domain ika.uns.ac.id di halaman pertama dan kedua. Halaman ketiga dan seterusnya saya tidak check.
Demikian juga dengan “IKA UNS”, hasil pencarian teratas adalah situs alumni.uns.ac.id.

Mungkin ada yang bertanya: Kan itu domain baru? Memang itu domain baru. Hasil search menunjukkan bahwa situs alumni.uns.ac.id dengan content terbarunya sudah ter-index oleh Google, tetapi kenapa tidak ika.uns.ac.id? Jawabnya ada di nomor [4].

[4] Page Rank

Di bawah ini perbandingan antara alumni.uns.ac.id dan ika.uns.ac.id dari MyPagerank.net

Membangun kembali sebuah PageRank, apalagi dari 0 membutuhkan cukup waktu. Apalagi jika redirection tidak dilakukan. Karena alumni.uns.ac.id mempunyai page rank yang lebih tinggi, maka tentu saja untuk beberapa keyword yang berkaitan dengan alumni UNS, situs alumni.uns.ac.id akan menempati posisi lebih tinggi.

[5] Link Popularity

Di bawah ini perbandingan antara alumni.uns.ac.id dan ika.uns.ac.id dari MyPagerank.net

alumni.uns.ac.id

ika.uns.ac.id

Dari Google, alumni.uns.ac.id mempunyai 41 BackLinks dan 7 Indexed Page, sementara ika.uns.ac.id = 0.

Baru saja saya peroleh informasi dari komentator bahwa penggantian domain ini adalah kesepakatan Munas Alumni (wah.. saya kok ga tahu yah kalau ada munas..) 😀

Kesimpulan:
Apa yang saya tulis adalah opini saya sebagai alumni dan mantan pengelola didasarkan pada pengalaman saya dalam pekerjaan sehari-hari. Keputusan untuk mengubah (atau menambah ??) domain saya serahkan sepenuhnya kepada hasil MUNAS Ikatan Keluarga Alumni UNS (Universitas Sebelas Maret).

Mengganti domain sama saja mengubah alamat rumah di Internet, apalagi untuk sebuah website. Alasan pihak UNS untuk mempertahankan domain alumni.uns.ac.id sudah tepat, tetapi sayangnya tidak dilakukan redirect ke domain baru ika.uns.ac.id. Walaupun bisa dilakukan redirect, tentu membutuhkan waktu lagi untuk menaikkan PageRank alumni.uns.ac.id ika.uns.ac.id dari 0 ke (setidaknya) 5.

Semoga tulisan saya ini bisa menjadi pertimbangan bagi Anda yang ingin mengubah nama domain Anda.

Beberapa artikel/diskusi menarik bisa dilihat di:

Memasang link ika.uns.ac.id di dalam posting ini semoga membantu mempromosikan situs Ikatan Keluarga Alumni UNS, atau malah mempromosikan blog saya ini :D. Setidaknya permintaan komentator sudah saya penuhi sebagai bentuk tanggung jawab saya sebagai Alumni Universitas Sebelas Maret.

UPDATE!!!: Terima kasih buat: ******* atas interview singkatnya. (Atas permintaan narasumber, nama narasumsber saya mask) 😀

Ditulis dalam Daily, IT, UNS, Work. 14 Comments »

Joko-Joko di Jokorte

Setelah lama tidak ketemu secara fisik, sms-pun juga jarang, apalagi voice, kemarin salah satu teman seperjuangan (satu kost dan satu jurusan) saya menelpon di saat saya sedang terkantuk-kantuk. Agak susah mengenali suaranya karena logatnya sudah beda, mungkin karena “terlunte-lunte” di Jakarte katenye..

Namanya Joko Sutopo, kadang dipanggil Joktop, atau kadang dia mempopulerkan diri dengan nama Alex. Asli dari Kemusu, Boyolali – Kota Susu. Lulus dari kos An-Noer dan Jurusan Fisika UNS. Wisudanya barengan dengan saya dan rekan satu kos yang punya ketrampilan membuat kompor, sehingga berjuluk “Joko Kompor” alias Joko Tursilo alias Kubro. Kalau Joktop dari Boyolali, maka si Kubro ini berasal dari Magelang. Semua punya core business sendiri, Joktop dengan Superboy-nya (Susu Perah Boyolali) dan Kubro dengan kompor-nya.

Saat ini keduanya bekerja di Jakarte, dan harapan saya semoga tidak “terlunte-lunte”. Keduanya juga mempunyai calon pendamping hidup di Jakarta, sehingga kecil kemungkinannya untuk balik ke Solo atau paling tidak mampir ke kost An-Noer.

Obrolan saya dengan Joktop hanya berkisar pada kabar, keluarga, pekerjaan (dia ga pernah ngaku kerja dimana, maunya nglemes.. :D..), dan rencananya untuk menikah di tahun 2007 ini. Semoga segera kesampaian ya.

Sukses deh buat kedua Joko yang ada di Jokorte..

Ups.. ada lagi.. Joko Santoso (Gestway).. happy parenting ya..

Sampai ketemu kapan-kapan..

Ditulis dalam Daily. Leave a Comment »

Belanja Kebutuhan Bayi (Lagi) (Lagi) (Lagi)

Lagi-lagi saya dan istri belanja kebutuhan bayi lagi. Masih di toko yang sama, Asia Baru. Kalau dulu kami beli itu, dan kemarinnya beli ini, kemarin kami membeli:

  • 1 gurita buat ibu
  • 1 botol warna pink
  • 1 bedak bayi
  • 2 tissue basah (lagi promo soalnya), beli dua harga lebih murah
  • 2 wash lap motif kotak-kotak coklat dan polos
  • Hanger Helicopter ™: hanger yang biasa buat jemur popok, bentuknya kayak baling-baling helicopter
  • Baju bayi warna biru
  • Sepatu bayi rajutan, tentu berwarna biru
  • Pembalut untuk pasca melahirkan

Alhamdulillah, sudah banyak yang sudah terbeli. Ada beberapa lagi yang musti dibeli buat jaga-jaga karena sedang musim hujan.

Oh ya, total kupon yang sudah kami kumpulkan untuk dua kali belanja ini adalah 32 kupon, bisa ditukarkan dengan 8 buah gelas ukuran tanggung, atau 3 buah piring, atau nunggu 3 kupon lagi dapat toples. Mmmm, pilih yang mana ya?

Gelas kali yah, dapatnya banyak.. 8.. 😀

Belanja Kebutuhan Bayi (Lagi) (Lagi)

Rabu kemarin Solo tidak hujan. Yak, sesuai rencana saya dan istri pergi ke Asia Baru untuk melanjutkan belanja kebutuhan bayi. Setelah sebelumnya membeli bedong, kaos kaki+tangan, dan wash-lap, kali ini kami fokus pada pembelian bedong, kerodong, popok, gurita dan perlengkapan lain.

Setelah memilih dan memilah, akhirnya kami membeli:

  • 6 helai bedong warna biru, pink, kuning dan hijau
  • 1 lusin popok
  • 1/2 lusin gurita
  • 1 kerodong kotak warna pink
  • 1 lembar perlak
  • Bedak bayi dengan botol warna pink
  • Tempat bedak warna pink
  • Botol warna pink
  • Minyak telon

Kami memang membeli banyak popok dan mungkin akan membeli celana lagi, untuk menghindari kehabisan stock karena belum kering dijemur, saat ini kan sedang musim penghujan, jadi kemungkinan bakalan dijemur indoor. Untuk jarik/selendang minta tolong ibu saja untuk membelikannya di Pasar Klewer. Saya dan istri tidak punya keahlian tawar-menawar apalagi di Klewer.

Setelah selesai membeli perlengkapan bayi di lantai dua, kami naik ke supermarket untuk membeli tissue dan sabun cuci. Antrinya banyak sekali, mungkin karena tanggal muda. Walaupun saya sudah sering ke supermarket, tapi baru sekarang saya melihat antrian sepanjang ini. Plus diperparah dengan Point of Sale (POS)-nya yang masih menggunakan mesin kasir lama, bukan pakai barcode-reader, sehingga kemungkinan human error saat entry lebih banyak dan memakan banyak waktu, karena interaksi ke keyboard bakalan lebih banyak.

Beda dengan yang saya lihat di Luwes atau Hypermart Solo Grand Mall, mereka sudah menggunakan barcode-reader sehingga interaksi ke keyboard hanya untuk memasukkan jumlah (yang juga bisa dilakukan dengan cara men-scan item yang sama), uang yang dibayarkan dan mencetak faktur pembelian. So simple.

Jika dibandingkan dengan Luwes dan Hypermart Solo Grand Mall, Asia Baru memang kalah jauh. Tetapi jika dibandingkan dengan As-Gross Assalam yang ada di belakang kampus UNS Kentingan, Asia Baru jauh lebih besar, namun As-Gross sudah menggunakan barcode-reader di POS-nya.

Menurut saya, manager Asia Baru harusnya aware terhadap teknologi dan meng-upgrade sistem-nya, walaupun di sisi lain, harus diikuti dengan meng-upgrade SDM. Ada yang mau masukin proposal ke sana? Silahkan-silahkan.