Dijajah Belanda: 350 Tahun – Mother Tongue: Bahasa Jawa – Second Language: Bahasa Indonesia – Ga Ngerti Bahasa Belanda

“So your second language must be Dutch?”, tanya seorang buyer kepada saya saat sedang dalam perjalanan menuju pabrik. “No sir. Our second language is English”, jawab saya. Belakangan saya ketahui dari istri saya kalau jawaban saya salah. Seharusnya jawaban saya adalah “Bahasa Indonesia”.

Mungkin si mister yang asli dari Inggris ini mengira kalau bekas jajahan “londo” (baca: Belanda) selama 350 tahun pasti fasih berbahasa Belanda, padahal tidak. Beda dengan India, Singapura dan Malaysia yang dijajah londo Inggris. Sebagian besar bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Tapi Malaysia sepertinya ingin kembali ke bahasa Melayu dengan menerjemahkan “Mouse” (dalam konteks komputer) menjadi “tetikus”, atau “Plug and Play” dengan “tusuk dan mainkan” hehehehe😀

Ups. Jangan berkecil hati dulu. Orang Indonesia termasuk orang yang bisa berbicara dalam Multi-Lingual. Bahasa yang umumnya dikuasai adalah:

  1. Bahasa Suku, misalnya Jawa (belum termasuk turunannya: Ngoko, Krama, Madya, dll)
  2. Bahasa Nasional, yaitu Bahasa Indonesia
  3. Bahasa Asing, umumnya Bahasa Inggris. Kalau sudah bisa berbicara dengan bahasa di nomor 3, sudah dikatakan sebagai Multi-Lingual speaker, bukan lagi Bilingual.

Kenapa ya kok Bahasa Belanda tidak bisa kita warisi? Bisa jadi karena:

  1. Dulu justru penjajah Belanda yang belajar bahasa Indonesia untuk mengambil hati rakyat Indonesia. Contohnya ada di sini (tidak serius).
  2. Hanya orang tertentu yang bisa mempelajari Bahasa Belanda karena tugas belajar, misalnya di sekolahkan oleh Belanda, atau sekolah di sekolah Belanda.
  3. Karena hanya orang tertentu yang menikah dengan meneer Belanda, atau anaknya meneer. Atau mungkin karena jamu Nyonya Meneer.😀
  4. Semangat nasionalisme yang tinggi, sehingga memilih mengajarkan bahasa Indonesia, daripada bahasa Belanda.
  5. … ada yang mau nambah?

Waktu pameran di Jogja, ada buyer dari Belanda yang bertransaksi dengan saya. Melihat istri saya yang sedang hamil, Mr. Hoob Van Son ini menuliskan sebuah pesan di buku catatan kami, yang berisi ucapan selamat atas kehamilan. Pesannya ditulis dalam bahasa Inggris yang salah dalam ejaan tapi understandable..

Bagaimana dengan Anda? Bilingual atau Multi-Lingual?

10 Tanggapan to “Dijajah Belanda: 350 Tahun – Mother Tongue: Bahasa Jawa – Second Language: Bahasa Indonesia – Ga Ngerti Bahasa Belanda”

  1. yudhi cihuy Says:

    bahasa tantos eneng po ra?

    *tos tantos.. pie kabar mu lee..*

  2. Jauhari Says:

    Masalahe sing JAJAH indonesia dudu BELANDA mas, cuma PEDAGANG BELANDA si VOC kwi🙂

    Dadi yo CAPEK deh😀

  3. antobilang Says:

    Kalau saya sih multilingual…
    bahasanya bisa macem2…saya suku jawa, dari kecil di lampung, sekarang hidup di jawa lagi…jadi praktis bahasa yang saya bisa ada bhs jawa, bhs lampung, bhs indonesia, bhs inggris (little-little i can, lah!)…

    tapi buanyak lho bahasa serapan dari bahasa inggris/belanda kali ya…
    contohnya lampu, kayak bahasa londo
    terus yang unik orang jawa timur nyebut ketela dengan kata kaspo…

  4. Arief Fajar Nursyamsu Says:

    @ Yudhi Cihuy
    Walah. Bosone tantos kiy ketokke ijik boso jaman Brama Kumbara. Dadi nek nyeluk uwong ijik nganggo “Mau kemana Kisanak? Mau jemput Nyai ya?”
    He he he he..
    Tantos kiy lagi sibuk karo selingkuhane sing anyar. Coba delokken blog-e.

    @ Jauhari
    Eh.. VOC orang mana? Belanda apa Indonesia? Apa blasteran?

    @ antobilang
    “I break-break, the break do not eat” (Saya rem-rem, rem-nya tidak makan)😀 .
    Gitu maksudnya mas? Saya cuma bisa bahasa Jawa (Ngoko dan sedikit Krama), bahasa Indonesia, bahasa Inggris (no what-what kan?)..

  5. Yeni The Setiawan Says:

    iya tuh, kumpeni dulu bisanya cuma meras rakyat. ngajarin ngomong aja gag mau..
    tp kok malah sekarang saya jadi antek kumpeni😦

  6. Sylvia AN Says:

    Kalo saya seeh suka yg multilingual aje, bang. Kan asik bisa ngobrol pake bahasa yg lebih dari satu😀. Biar nggak kalah sama Bung Karno yg Bapak Presiden itu lhooo … Mosok beliau menguasai 5 bahasa d zaman itu, kita yang d zaman globalisasi kaga bisa, malu donk !!!

  7. Arief Fajar Nursyamsu Says:

    Ya, memang seharusnya bisa menguasai lebih dari satu bahasa, baik lokal ataupun asing. Secara bisnis juga menguntungkan kok.😀

    Misalnya Anda berada di Amerika dan ada dua toko yang satunya penjualnya adalah orang Indonesia dan yang satu orang Amerika, pilih beli dimana? Demikian juga sebaliknya.

    Thanks for visiting..

  8. valentino Says:

    soalnya dulu para meneer-meneer belanda itu gak mau ngajarin bhs belanda ma nenek-kakek moyang kita sih, makanya kita gak bisa mewarisi bhs belanda. kok para meneer itu gak mau ngajarin sih? soalnya kalo nenek-kakek moyang kita dulu paham bhs belanda, gak mungkin dong kita bisa dijajah sampe 350thn lamanya…..

  9. Arief Fajar Nursyamsu Says:

    Bisa jadi seperti itu ya. Klo diajarin takutnya malah jadi bumerang buat para meneer Belanda itu..
    Sudut pandang yang menarik..
    Terima kasih telah berkunjung.

  10. raga pangestu Says:

    ya – iyalahh jlas kita gx bsa bhasa blanda,krena wktu zaman penjajahan dulu indonesia kan sangat tertekan dan di rugikan olehh belanda ,susahh tukk berkomunikasi .bdakan kalu di jajh sama ingris indonesia pasti mju dan bsa berbahasa ingris seperti singpur ,malaysia, india dll.byasa ngara bkas jajhan igriss ska mju2 ngaranya,tergantung negara mana yang menjajahh …….
    bhasa belanda emang indonesia gx punya ,tpi banyakk kokk orang belanda eang keturunan indo….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: