Kebutuhan Bayi dan Ibu Setelah Melahirkan

Posting ini saya tulis sebagai jawaban atas pertanyaan dari Ibu Sheny.

Setelah memperoleh kepastian jenis kelamin bayi (walaupun ada yang mengalami hasil USG dan saat lahir jenis kelamin bayi beda), mungkin sudah saatnya mulai belanja kebutuhan si calon buah hati. Tetapi di adat Jawa, katanya kalau belum “mitoni” (tujuh bulanan) tidak boleh beli barang-barang buat bayi. Pamali.  Benar tidak ya? Saya sendiri kurang tahu.

Jenis kelamin bayi pasti akan berpengaruh dengan barang yang akan dibeli. Kalau saya dan istri, karena sudah ketahuan kalau yang lahir adalah cewek, maka yang dibeli semuanya “girly”. Mulai dari warna (pink, biru muda, hijau muda) dan model. 😀 . Tetapi banyak kok pakaian atau peralatan bayi yang bisa digunakan untuk bayi cowok ataupun cewek. Jadi jangan khawatir salah beli. Kalaupun tidak jadi dipakai, kan bisa dibungkus untuk dijadikan kado.

Nah, belinya secukupnya saja, jangan banyak-banyak. Alasan pertama: bayi bakalan cepet gedhe kalau sudah diluar kandungan. Nisa baru 2 bulan, popok, gurita dan bedongnya sudah cupet. Sejak usia 1.5 bulan sudah dipakaikan kaos dalam dan celana, tidak lagi memakai gurita dan popok. Alasan kedua: siapa tahu nanti ada yang memberikan kado berupa kebutuhan bayi 😀 . Kalau tidak ada yang memberi kado ya baru beli.. hehehehe..

Apa saja sih kebutuhannya?

Bayi

  1. Popok
    Karena bakalan lebih mudah melepasnya kalau kena pipis atau eek. Apalagi kalau usia bayi masih dalam orde hari dan si Ibu masih grogi pegang bayi. Hindari bermotif warna kuning, biar nanti tidak membingungkan kalau kena eek 😀
    Belinya juga dilihat kebutuhan. Kami membeli 2 lusin popok, karena sedang musim hujan. Takut tidak kering.
  2. Gurita
    Untuk menjaga agar tali pusar yang belum puput/lepas tidak tergesek-gesek oleh baju. Ada juga yang mengatakan untuk membuat bayi hangat serta menjaga tulang punggungnya yang masih rawan.
  3. Bedong/Gedong
    Untuk membungkus bayi agar hangat. Pastikan memilih ukuran yang besar. Hati-hati saat bayi dibedong, jangan terlalu ketat dan waspadai kegerahan.
  4. Baju & celana, baik lengan pendek maupun panjang.
  5. Sarung tangan & kaki serta tutup kepala.
  6. Perlak
    Alas dari plastik atau karet agar pipis bayi tidak tembus ke kasur.
  7. Alas tidur
  8. Handuk besar
    Buat mengeringkan bayi setelah mandi. Ukuran besar bertujuan agar Anda cukup meletakkan bayi di atas handuk, kemudian bagian yang tersisa buat menyelimutinya.
  9. Peralatan mandi: Sabun cair, shampoo
    Gunakan sabun cair, karena sabun batangan bakalan membuat Anda lebih repot. Lebih bagus yang ada pompanya, jadi tidak perlu menuang plus aman dari tumpah.
  10. Wash lap
    Untuk menggosok kulit bayi setelah disabun, dan menotol-notol pantat atau alat kelamin kalau basah karena pipis dengan dibahasi terlebih dulu.
  11. Kapas
    Bisa digunakan untuk mengganti wash lap. Lebih lembut. Biasa digunakan untuk mengusap bagian wajah kalau pas mandi, dan mengusap kemaluan atau lubang dubur setiap habis eek. Kalau cuma kena pipis, cukup ditotol-totol saja agar kulit bayi tidak merah karena digosok-gosok.
  12. Kosmetik bayi: Bedak, minyak telon, parfum, cotton bud.
  13. Tissue kering/basah
    Selain handuk atau wash lap, tissue kering bisa digunakan untuk mengeringkan daerah kemaluan yang basah. Tissue basah sangat berguna kalau lagi travelling.
  14. Ember atau tempat baju/popok kotor
    Kami memisahkan antara tempat baju/popok yang kotor/kena pipis dengan popok yang kena eek. Ada juga tempat untuk memisahkan jarik kotor yang kena pipis. Kami mempunyai ember warna biru untuk kena pipis, merah untuk kena eek, dan pink untuk jarik.
  15. Botol susu & pembersihnya
    Jika berencana memberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan, botol hanya sebagai jaga-jaga kalau Anda sedang tidak bersama bayi dan untuk melatih bayi minum ASI dari botol. Jangan lupa disterilkan sebelum dipakai.
  16. Hanger
    Untuk menjemur popok/celana/baju. Kami memilih bentuk baling-baling karena lebih ringkas dan mudah diambil kalau mendadak hujan.

Ibu

  1. Gurita untuk Ibu
    Berguna untuk mengencangkan perut pasca melahirkan. Untuk kelahiran dengan sesar, bisa digunakan untuk melindungi jahitan dari gesekan dengan baju.
  2. Baju longgar dengan bukaan di depan
    Agar proses laktasi berlangsung aman dan terkendali, tidak terganggu dengan kegerahan, baju longgar dengan bukaan depan memudahkan Anda menyusui bayi.
  3. Jarik
    Biasanya Ibu yang baru melahirkan menggunakan jarik agar mudah saat mandi dan urusan kamar mandi lainnya. Tidak perlu menekuk-nekuk kaki untuk memakai rok atau celana.
  4. Pembalut
    Pastikan berdaya tampung besar dan rajin diganti. Ada kok pembalut khusus untuk Ibu pasca melahirkan.
  5. Pakaian dalam
    Kalau ASI lancar, bra bakalan sering cepet basah dan musti ganti, atau bisa juga dilapisi dengan sapu tangan atau tissue, tapi ribet. Celana dalam juga mungkin harus sering ganti, terutama jika terkena darah nifas.

Apa lagi ya? Wah sepertinya sudah banyak ya. Mungkin pembaca yang lain bisa menambahkan.

Selamat untuk Ibu Sheny, semoga informasi ini berguna untuk Ibu dan pembaca semua.

Hari Ini Nisa Genap 2 Bulan

Hari ini, 14 April 2007, Nisa genap berusia 2 bulan. Apa saja sih perkembangannya:

  • Berat 4.6 kg lebih
  • Panjang: belum diukur secara pasti, tapi sepertinya sudah hampir 60 cm
  • Bisa bilang: “eNggih” secara jelas
  • Bisa menggumam: “Ibu” dan “Bulan”
  • Eek sehari sekali 😀
  • Mulai menunjukkan ekspresi suka dengan cara tersenyum sambil bersuara..
  • Rambut sudah mulai panjang lagi sejak dicukur
  • Memakai pospak (popok sekali pakai) kalau bobo malam
  • Teriak-teriak/nangis kalau kesepian..

Apalagi ya?… Banyak deh..

Cara Mencari Situs Universitas Sebelas Maret di Google

Bagaimana cara mencari alamat situs web Universitas Sebelas Maret melalui Google? Keyword(s) apa yang bisa digunakan?

Tentu saja keyword “Universitas Sebelas Maret” (dengan atau tanda petik) bisa digunakan, tapi ada juga keyword lain yang bisa digunakan, yaitu “Hal Depan” (mungkin singkatan dari Halaman Depan)
dan muncul di halaman pertama, rangking satu..

6 April 2006..

6 April 2006.., saya mengucapkan:

Saya terima nikahnya Ellisa Indriyani Putri Handayani…

Tidak terasa sudah membina rumah tangga selama setahun. Banyak hal yang perlu kami syukuri. Terlebih dengan lahirnya Nisa yang membuat rumah tangga kami lebih berwarna.

Alhamdulillah.

Segala puji syukur kepada-Mu ya Alloh atas segala limpahan karunia dan ridho-Mu kepada kami sekeluarga. Ampunilah segala dosa kami dan masukkanlah kami ke dalam golongan hambamu yang selalu bersyukur. Berikanlah kami petunjuk dan kemudahan dalam membina rumah tangga dan mendidik Nisa.

Amin ya robbal’alamin.

Terima kasih istriku, sekarang aku telah menjadi Bapak dan engkau juga telah menjadi Ibu bagi anak kita (Nisa dan calon adik-adiknya). Aku mencintai kalian.

Membedakan “Countable Noun” dengan “Uncountable Noun”

English version can be found here.

Tulisan ini terjemahan bebas dari posting terdahulu tentang cara membedakan “Countable Noun” (benda yang dapat dihitung) dan “Uncountable Noun” (benda yang tidak dapat dihitung).

Dulu saya sering bingung mana yang “countable” dan mana yang “uncountable”. Untunglah istri saya dengan senang hati menjelaskan perbedaannya, yang ternyata sangat sederhana.

Cara membedakan mana yang “countable” dan mana yang “uncountable” adalah dengan membagi “benda” tersebut menjadi beberapa bagian.

Bingung? Berikut penjelasannya..

Countable Noun:
Jika setiap bagian dari hasil pembagian benda itu TIDAK merepresentasikan benda yang dibagi, maka benda itu termasuk “countable noun”.

Contoh

Jika Anda memecah belah kursi hingga berantakan entah dengan cara menggergaji, digigit-gigit atau dipatahin pakai tangan, maka tentu saja potongan-potongan kursi tidak bisa disebut sebagai kursi. Jadi kursi adalah “countable noun”.

Uncountable Noun:
Jika setiap bagian dari hasil pembagian benda itu merepresentasikan benda yang dibagi, maka benda itu termasuk “uncountable noun”.

Contoh

Jika Anda memecah belah gula hingga berantakan, maka tentu saja serpihan-serpihannya tetap merupakan gula.
Jadi gula adalah “uncountable noun”.

Nah, pelajaran berhitung sampai di sini dulu.

Semoga bermanfaat ya.. 😀

Mengurus Akte Kelahiran Nisa

Setelah sekian lama tertunda dan mendekati deadline yang ditetapkan oleh PKU Muhammadiyah Solo untuk pengurusan Akte Kelahiran, tadi saat istirahat saya ke PKU (tentu saja dengan berkas persyaratan lengkap) untuk mengurus Akte Kelahiran Nisa. Apa saja sih syaratnya?

Syarat pengurusan Akte Kelahiran melalui PKU Muhammadiyah Solo:

  1. Surat Keterangan Lahir dari PKU
  2. Fotocopy Akte Nikah yang dilegalisir (rangkap 2)
  3. Fotocopy KTP dan Kartu Keluarga dan menunjukkan aslinya
  4. Biaya administrasi: Rp 25.000,-

Di PKU akan diminta mengisi:

  1. Formulir Pendaftaran/Pelaporan Kelahiran dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta
  2. Surat kuasa khusus
  3. Permohonan Persetujuan Penerbitan Akte Catatan Sipil (hanya untuk pemohon domisili luar kota Surakarta)

Tapi ada beberapa catatan khusus yang perlu diperhatikan:

  1. Jika pengurusan Akte melebihi waktu 2 bulan sejak lahir, maka akan syarat yang diberlakukan lebih banyak, yaitu: Surat keterangan lahir dari kelurahan dan formulir harus ditandangani oleh lurah dan camat. Ini berarti butuh waktu+biaya lebih banyak. Biaya pengurusan di PKU juga lebih banyak, yaitu Rp 45.000,-
  2. Jika pada Kartu Keluarga tercantum gelar pendidikan sementara di Akte Nikah tidak ada, maka perlu membuat surat pernyataan di atas kertas bermaterai Rp 6.000, plus fotocopy ijazah yang sudah dilegalisir. Ini opsional, karena yang digunakan sebagai acuan adalah Akte Nikah.

Nah karena saya dan istri mengalami kasus nomer 2, maka formulir saya bawa pulang. Besok kembali lagi ke PKU dengan tambahan persyaratan.. 😀

Judul Blog Ini

Karena istri sudah tidak belum hamil lagi dan Nisa sudah lahir. Maka judul blog ini saya ganti tambah menjadi “IT, Translation, Pregnancy & Parenting“. Semoga tidak kepanjangan ya?

Okay, please sit back, relax and enjoy the show.. 😀