eNggih

Selama bersama Nisa, istri saya berusaha melakukan verbalisasi (bener ga ya?) setiap tindakan yang dia lakukan terhadap Nisa. Misal saat gantiin popok, istri saya bilang “Popoknya digantiin dulu nggih?” atau kalau si Nisa bersin dibilang gini “Oh, dik Nisa bersin ya? Enggih?”

Jadilah kata “enggih/nggih” (yang berarti “Iya/ya” dalam bahasa Indonesia) menjadi populer dalam komunikasi kami dengan Lisa Nisa. Termasuk bunyi “uuuuuuu” dan “Ajeng matur nopo?” (Mau ngomong apa?). Favorit yang lain adalah “Senyumnya mana?”, dan Nisa kadang-kadang memang tersenyum, semoga bukan kebetulan.

Saya tidak ingat kapan mulainya, tetapi yang jelas itu jam 3-an pagi. Nisa sudah bangun dan tidak mau tidur lagi. Saya taruh di bantal dan dipangku. Saat saya ngoceh ngobrol (ngliling/ngudang) dengan Nisa, dia mengeluarkan suara “Aooo” dan senyum-senyum. Wah, apakah Nisa sudah bisa dililing?
Semenjak itu, kalau tidak bobo, Nisa pasti dililing dengan suara-suara khas bayi yang lagi belajar menggumamkan sesuatu.

Nah, tadi pagi, jam 2.30-an, Nisa sudah bangun dan menangis karena lapar. Ditidurkan sambil digendong juga tidak mau. Mungkin mau main dulu. Ya sudah, Nisa ditaruh dan mulailah bapak dan ibunya ngliling.

Waktu ditanya “Dik Nisa mboten ngantuk toh? Enggih?”…

Eh Nisa menjawab dengan kata “eNggih” sambil senyum-senyum..

Ini adalah kata “eNggih” yang dia ucapkan secara jelas. Hehehe.. dengan begitu kami bisa mengajarinya ngomong kata-kata lain yang menggunakan bilabial konsonan, misalnya: papapa, mamama, bububu, mimimi, atau apapun yang menggunakan konsonan “p, m dan b”, yang ditimbulkan dari bibir.

Karena bayi atau anak-anak belajar bahasa dengan metode “Language Acquisition“, maka cara mengajarinya dengan cara mengulang kata-kata atau kalimat yang sama, dan bisa juga disertai obyek.

Saat ini, kami masih fokus pada kata/kalimat di atas, dan setiap kali minum, istri saya memverbalisasi dengan kata “mik” dan kalau pipis dengan kata “pipis”. Kata “bu” untuk ibu dan “pak” untuk bapak juga sudah mulai kami berikan.

Doakan ya semoga berhasil.

6 Tanggapan to “eNggih”

  1. H.N. Wawan Says:

    Assalam wr wb
    Maaf neh hanya sekedar ninggalin TBCnya para abu abu. ada abu lahab, ada abu jahal dan lain lain. hehehhe.
    Wassalam wr wb

  2. Amd Says:

    Wah, kalau anak saya malah vocabulary-nya dia kumpulin sendiri… yang kami ulang-ulang ajarin malah ndak mau dia sebut, hehe, katanya sih yang begitu dominan otak kanan ya?
    Misalnya bayi kebanyakan kan bilang Mama dan Papa, dia bilangnya B(h)uuu, dan Papipapipapi… Padahal saya minta dipanggil Ayah, hehe…
    Sedangkan kata pertama yang bisa dia sebut adalah Bebek! Wakakak… Itu gimana ya?

  3. Arief Fajar Nursyamsu Says:

    Hehehehe, bagus dong bisa ngumpulin sendiri. Itu kan bagian dari Language Acquisition, menyerap dari lingkungan.

    B(h)uuu dan Papipapipapi kan termasuk dalam kata yang disusun dari bilabial konsonan, jadi lebih mudah dilafalkan. Kalo ayah, kan lebih rumit.

    Demikian juga dengan Bebek..

  4. Alief Says:

    cak, nama baby nya Lisa atau Nisa?
    eNggih tadi tak pikir sebuah produk e baru, semisal e-Mail, e-Banking, dll😀

  5. Arief Fajar Nursyamsu Says:

    Panggilannya “Nisa” Cak..
    Kalo Lisa, itu ibunya.. hampir-hampir mirip ya😀

    Hahahaha… sampeyan ini bisa saja..
    Mungkin perlu dikasih ™ kali yah…

    Jadinya… eNggih™ .. hehehehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: