Kami Pindah Rumah

Di suatu pagi.. hari Selasa 29/05/2007

“Ayang, bangun, sudah jam 5 lho!, musti nyuci bajunya Nisa, biar nanti kering, Eek-nya Nisa kemarin banyak”

“Aku sholat dulu ya”

Keluar kamar..

Ibu sudah bangun. Bapak juga. Ah, gosok gigi, wudhu, terus cho’ol..

Nisa sudah mulai menggeliat, wo.. bangun..

“Selamat pagi cantik. Enak sekali bobo’-nya. Bobo’ lagi yok”

Dan senyum itu merekah di bibirnya, kakinya menendang-nendang, matanya berbinar sambil terus tersenyum, kadang juga terkekeh tertawa.

“Cantik, bapak nyuci dulu ya. Cantik sama ibu dulu.”

Akhirnya, saya meninggalkan Nisa yang masih juga tersenyum, terkekeh, tertawa.. ada apa dia pagi ini.. ceria sekali.

Atau.. jangan-jangan..

Jangan-jangan dia tahu bahwa sebentar lagi dia akan menempati rumah baru dan bisa menyebutnya sebagai kampung?

Ya, Selasa 29/05/2007.. kami pindah rumah..

Alhamdulillah, setelah menungu lebih dari setahun, akhirnya bisa juga saya sekeluarga menempati rumah kami di Puncak Solo Residence – Mojosongo – Solo. Walaupun listrik masih “ngganthol” (tapi legal lho) karena ruwetnya Ray White dan developernya, kami sepakat untuk segera menempatinya.

Hari itu memang saat dimana kami secara resmi menempati rumah kami, setelah lebih dari setahun tinggal di rumah orang tua kami (mertua saya) di Petoran – Solo. Saatnya kami untuk lebih mandiri. Mengerjakan ini itu dan urusan rumah tangga lainnya. Gong-nya pindah rumah adalah dengan dibawanya Nisa ke rumah kami.

Sebenarnya beberapa barang sudah kami cicil untuk dipindahkan, bahkan ada juga yang dikirim dari Klaten (terimakasih Bapak Ibu, Mbak, Dik, Om). Hari Minggu (27/05/2007), barang-barang kami yang ada di rumah orang tua Solo yang kami pindahkan. Tidak menyangka ternyata banyak sekali rejeki yang telah dilimpahkan Alloh sehingga kami bisa memiliki banyak barang.

Saya masih ingat saat saya ngomong ke istri saya: “Ntar natanya gimana ya?”.. dan istri saya hanya mengatakan: “We have a whole life to do that sweetheart”.. Jawaban yang tidak saya sangka dan saya membenarkannya. I love you sweetheart.

Acara pindahan kami memang sederhana sekali. Tidak ada ceremonial atau “slup-slupan”. Bahkan belum laporan ke pak RT juga 😀 .. hehehehe..

Bismillah saja deh..

Istri saya, Nisa, mertua dan kakak ipar naik taksi. Bagasinya saya isi penuh dengan barang-barang yang bisa masuk. Hehehehe.. biar ga bolak-balik. Saya naik motor membawa beberapa barang. Persis orang pindahan (padahal iya), motor saya penuh. Di belakang ada kardus berisi baju, di depan ada keranjang berisi boneka. Saya memilih jalur lewat UNS, karena lebih dekat, walaupun jalannya kayak ampiang.

Saya sampai paling akhir karena harus packing dan mengunci pintu rumah. Wah, semua sudah mulai beraktivitas. Saya unpack dan segera membantu menata beberapa hal. Sementara Nisa sudah mulai bersenang-senang dengan dirinya sendiri. Mengencut jari dan mengamati jari-jarinya sendiri.

Eh, ternyata Bapak saya dari Klaten datang juga (kebetulan memang ada jatah mengisi pengajian di Solo). Kata beliau sih bantu-bantu apa gitu, dan ternyata bantuin bikin jemuran dan memasang antena TV. Tapi baru TVRI saja yang bisa kelihatan jelas. Lainnya tidak ada gambarnya sama sekali. Mungkin karena kurang tinggi masangnya, atau karena saya hanya menggunakan antena sungut? Ah, entahlah. Kapan-kapan saja, toh juga jarang sekali lihat TV. Mending main sama Nisa dan ibunya.

Sore harinya, giliran Ibu dan kakak ipar saya nyusul dari Klaten, sambil bawa sembako plus makanan. Wah, terima kasih ya Bu, kami tidak perlu belanja lagi dalam waktu dekat ini.

Keluarga Klaten pulang jam 20 an, tidak lama keluarga Solo juga pulang. Waktu ditawarkan untuk menginap, malah dijawab “Kita kan memberi kesempatan kepada kalian” .. hahahaha.. tidak tahu maksudnya apa, tetapi memang ini adalah saatnya kami harus benar-benar mandiri.

Sudah malam, hanya suara jangkrik, gonggongan anjing, halilintar dan rintik hujan yang terdengar. Nisa masih berusaha ditidurkan. Alhamdulillah kami tidur di rumah kami. Untuk pertama kalinya.

Terimakasih buat Bapak Ibu di Solo dan Klaten atas semua bantuannya.
Adik yang sudah membantu “mengamati” rumah, mas dan om yang sudah
nengokin. Semoga Alloh senantiasa meridhoi semuanya. Amin

Buat rekan-rekan semua, mohon doa restunya ya. Semoga rumah ini membawa barokah dan kebahagiaan buat kami. Amin.

NB: Belum ada screenshoot rumah kami. Tetapi apa yang terjadi saat pindahan,semua tercatat di kenangan kami.

Iklan
Ditulis dalam Daily, H20. 13 Comments »

Akhirnya Eek Juga

Setelah menunggu 7 hari (hah.. seminggu).. alhamdulillah akhirnya Nisa eek juga.

Sempat kuatir apakah Nisa sembelit, tetapi setelah googling dan mendapatkan hasil bahwa banyak bayi yang minum ASI eksklusif mengalami hal seperti ini, akhirnya kami menunggu sambil melihat perkembangannya. Nisa tidak rewel dan perutnya tidak keras plus bisa kentut, asumsi kami karena bisa kentut, pasti jalan keluar eek tidak ada masalah 😀

Hari minggu kemarin ada seorang supervisor perawat RS Moewardi Solo yang datang ke rumah untuk mengambil hasil terjemahan abstrak skripsinya. Sekalian aja minta dilihatin kondisi Nisa, dan katanya memang tidak perlu dikuatirkan.

Ternyata benar, Senin siang jam 14.52 Nisa bisa eek dan banyak.

Wah berasa lega lho. Nisa lega, bapak dan ibunya juga lega. Hehehehe..

Jadi selama satu pekan ini apa sih yang ditungguin dari Nisa?..

Tahu kan jawabannya.. 😀

Nah bagi ibu yang memberi ASI ekslusif kepada bayinya, jangan kuatir kalau bayinya tidak eek beberapa hari. Selama bayi tidak rewel, perutnya tetap kenyal (tidak keras), pipisnya juga banyak dan bisa kentut, insya Alloh tidak ada masalah dengan pencernaan si bayi.

PS: Postingan ini sudah saya draft hari Senin kemarin, tetapi karena ada sesuatu hal tidak bisa dipublish 😦

Terindeks Oleh Google Dalam Waktu Kurang Dari 3 Jam

Posting saya mengenai Nisa yang minum ASI dari botol (posting saya tulis 2007-05-21 2:09:09 pm), ternyata terindeks oleh Google dalam waktu kurang dari 3 jam. Saya tahu, ini hanya kebetulan saja bertepatan dengan indexing yang dilakukan oleh Google, cuma tidak pernah secepat ini 😀

Saya mengetahuinya saat membaca “Search Engine Terms” di blog stats.

Hasil pencarian kata kunci: ketahanan asi untuk google.com adalah:

Untuk google.co.id, silahkan dicoba di sini 😛

Ditulis dalam Daily, IT. 7 Comments »

Foto-Fotonya Nisa

Sudah lama saya tidak mengupload fotonya Nisa. Alasan utamanya karena saya harus mendownloadnya dari device milik orang lain 😀

Alhamdulillah sekarang sudah banyak perkembangannya. Minum dari botol, tidur miring dan kadang-kadang tengkurap. Saya dan istri juga sudah mulai menemukan jawaban atas tanda-tanda yang diberikan, terutama ekspresi wajah dan tangisan.

Kalau dahinya dikerutkan dan wajahnya memerah plus ada ekspresi mengejan, berarti pipis atau mau BAB. Atau jika digendong dan disusui malah menangis, biasanya hanya ingin bermain atau diajak ngobrol. Nah kalau sudah capek, mulai deh nangis dan mau digendong serta disusui. Habis itu bobo.

Nisa sering ketawa-ketawa dan ikutan mengangkat alis kalau saya bilang “Oh ya?” sambil mengangkat alis. Atau kalau saya ingin tahu apakah dia ingin diputerin mainan dengan bertanya: “Lagi?”..

Belakangan yang sering dia lakukan adalah mengamati dan memainkan jari-jarinya..

Ah, banyak hal yang perlu kami syukuri dari Nisa.. 😀

Minum ASI dari Botol

Sejak sepekan yang lalu, Nisa sudah diselingi minum ASI dari botol. Bukan kok ibunya yang tidak mau menyusui, tetapi Nisa semakin peka terhadap lingkungannya. Kalau sedang menyusu kemudian ada suara atau hal apapun yang menarik buat dia, langsung deh dilepasin dan kepalanya noleh-noleh. Begitu sudah puas, balik menyusu lagi, tetapi kalau ada “gangguan” dilepas lagi. Wah, kalau kayak gini terus biasanya ibunya yang bingung dan lama kelamaan Nisa nangis karena lapar. Hehehehe… dik dik..

Alasan lain adalah untuk mempersiapkan Nisa kalau ditinggal ibunya kerja. Istri saya bekerja sebagai pengajar bahasa Inggris di Pusat Bahasa UNS dan rencana mulai kembali aktif mengajar bulan Juni atau Juli. Jika Nisa sudah bisa minum dari botol (lewat dot tentunya), ibunya tinggal memerah ASI ke botol. Semoga nanti jadwal mengajar bisa disiasati sehingga tidak perlu meninggalkan Nisa lama-lama. Untungnya waktu tempuh dari rumah kami ke UNS tidak sampai 10 menit.

Sudah beberapa kali Nisa dilatih minum dari botol, tetapi selalu menangis karena belum terbiasa. Awalnya sih karena harus ditinggal ibunya kontrol ke SpOG untuk pemeriksaan pasca sesar. Nisa dititipkan ke kakek-neneknya dan ditinggali satu botol ASI, tetapi Nisa ternyata tidak mau minum, akhirnya diusahakan untuk ditidurkan sampai ibunya pulang. Untungnya selalu dapat giliran dengan waktu tunggu tidak lama, sehingga bisa cepat pulang.

Beberapa kali dicoba selalu tidak mau dan hasil akhirnya adalah menangis dan kembali ke laptop tetek. Hingga akhirnya kami memutuskan willy-nilly Nisa harus bisa minum dari botol. Ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Saat saya menanyakan ke kakak saya (yang juga punya bayi berusia 6 bulan) mengenai harga alat pemerah ASI yang dia pakai dan dibeli dimana, eh malah ditawarkan untuk menggunakan miliknya. Karena menurutnya pemerah ASI itu juga tergantung kecocokan. Kakak saya tidak cocok kalau menggunakan alat pemerah ASI, hasil perahannya sedikit, sehingga sekarang memilih manual menggunakan tangan.

Jadi deh pemerah ASI ber-merk Medela itu digunakan oleh istri saya. Sabtu (12/05/2007) pemerah ASI itu dicoba dan tahap pertama bisa menghasilkan 50 ml. Langsung dicoba apakah Nisa mau minum pake dot, masih tidak mau karena dot-nya terlalu keras. Setelah diganti yang lembut, pelan-pelan dia mulai mengencut (walaupun kadang dilepas) dan alhamdulillah habis ASI 50 ml. Tapi sepertinya kurang, dan perahan tahap kedua menghasilkan 40 ml dan habis diminum Nisa. Karena takut kekenyangan (dan sudah hampir jam 22.30 malam), latihannya dihentikan, dan Nisa tidur sampai pagi.

Pagi harinya, kembali diperahin ASI dan diperoleh hampir 125 ml. Jangan tanya, semua habis diminum Nisa lewat dot.

Hore… berhasil..

Alhamdulillah.. Semoga ASI-nya lancar sehingga bisa menghindari susu formula.. Amin.

Tulisan di blog ini menunjukkan bahwa ketahanan ASI hasil perahan adalah sebagai berikut:

ASI perah adalah ASI yang diambil dengan cara diperas dari payudara untuk kemudian disimpan dan nantinya diberikan pada bayi. Apa tidak basi? Menurut Utami, sampai waktu tertentu dan dengan penyimpanan yang benar, ASI tidak akan basi. Misalnya, ASI tahan disimpan di dalam suhu ruangan sampai 6 jam. Jika disimpan di thermos yang diberi es batu, bisa tahan hingga 24 jam. Bahkan, kalau disimpan di kulkas ketahanannya meningkat hingga 2 minggu dengan suhu kulkas yang bervariasi. Jika disimpan di frezeer yang tidak terpisah dari kulkas, dan sering dibuka, ASI tahan 3-4 bulan. Sedangkan pada freezer dengan pintu terpisah dari kulkas dan suhu bisa dijaga dengan konstan, maka ketahanan ASI mencapai 6 bulan.

Tadi pagi Nisa diperahkan ASI. Baru sebagian diminum, Nisa ngompol.
Setelah digantiin celananya, ASInya diminumkan lagi, ternyata tidak mau
dan menangis. Ibunya bilang “Sebentar ya dik, diangeti dulu susunya”.
Hahahaha… dan benar. Setelah dihangatkan (dengan cara direndam air
panas/hangat), langsung deh lahap lagi minumnya.. 😀
Ooo.. ternyata maunya yang hangat ya.. hehehehe.. ada-ada saja..

Ayo dukung pemberian ASI eksklusif dan katakan tidak kepada susu formula !!!

Memahami Porsi: Jangan Salahkan Penjaga Pintu Perlintasan Kereta Api Jika Anda Ketrabak Kereta

Hari Kamis (17/05/2007) kemarin, pas kebetulan hari libur (walaupun tidak dapat cuti nasional), saya pergi ke toko alumunium untuk membeli rel korden di daerah Widuran – Solo. Mendekati perempatan Panggung, sudah kelihatan bahwa ada antrian panjang kendaraan menuju pintu perlintasan KA di dekat Pom Bensin Ledoksari.

Wah, macet nih, bakalan lama. Tapi karena jalan yang lain harus memutar mendingan ikut ngantri saja, sambil lihat kereta lewat. Hehehehe.. soalnya kalau dari rumah cuma kedengeran suara kereta-nya dan suara tang ting tung dari horn-nya stasiun Jebres. Ditungguin lama kok ga nongol-nongol ya. Tapi ya santai saja, biasanya memang kalau baru ditutup, berarti kereta baru mulai berjalan dari stasiun Balapan. Tapi saya salah menduga. Pintu perlintasan sepertinya sudah ditutup lama, sehingga banyak pengendara motor yang mengklakson penjaga perlintasan agar membuka palang. Maklum juga sih cuaca panas.

Waktu saya noleh ke kanan, ternyata ada bendera kuning dan ada beberapa pekerja sedang membenahi rel KA. Sepertinya berkaitan dengan bantalan rel. Penjaga perlintasan keluar dari posnya dan mendekati para pekerja, tidak jelas apa yang mereka katakan, tetapi sepertinya meyakinkan apakah rel sudah bisa dilewati. Dua kali dia bolak-balik ke pos dan saat dia akan kembali ke pos setelah melakukan pengecekan, ada seorang pengendara motor yang meneriakinya. Tidak jelas yang diteriakkan, tetapi ada kata umpatan yang benar-benar terdengar jelas yaitu “A*U”. Si penjaga pun menoleh dan berkata sesuatu, tapi segera dia kembali ke pos. Tidak lama kemudian, sebuah rangkaian KA bergerak perlahan mendekati perlintasan, dan saya lihat tepat di daerah yang sedang dibenahi, gerbong KA terlihat miring.

KA dengan sukses melintasi perlintasan menuju ke Stasiun Jebres yang berjarak kurang lebih 200 m dari perlintasan. Penjaga perlintasan membuka pintu perlintasan, si pengendara motor itupun segera tancap gas, dan saya pun menyempatkan diri melihat wajahnya.

Memahami Porsi

Ini bukan masalah porsi makan atau minum, tetapi memahami porsi pekerjaan dan bagaimana orang laian bekerja untuk keselamatan kita. Coba bayangkan kalau misalnya si penjaga perlintasan membukakan pintu hanya untuk menuruti bapak emosional yang tidak tahu cara berbicara dengan bahasa manusia itu. Pastilah bakalan kacau, bisa jadi ada yang ketabrak kereta, atau ada yang menabrak kereta.

Saya yakin bahwa si petugas harus menutup pintu lebih awal karena dia perlu mengetahui apakah rel sudah aman untuk dilalui dan memberikan informasinya ke stasiun sebelumnya (Balapan). Jika tidak dikonfirmasi, bagaimana kalau kereta terguling atau keluar lintasan? Siapa yang bertanggung jawab? Ujung-ujungnya si penjaga juga yang kena kan?

Sering kita tidak bisa melihat porsi pekerjaan orang lain, atau orang lain tidak bisa melihat porsi pekerjaan kita. Kita melihat pekerjaan orang lain itu enak, bisa santai, dapat bonus, gaji gedhe. Tapi tidak melihat tanggung jawab dan level pekerjaan orang itu. Atau mungkin orang lain melihat kita bekerja sedemikian enak, dapat libur, bonus, gaji gedhe, cuma di depan komputer saja, tetapi tidak melihat bahwa apa yang kita lakukan sebenarnya untuk memperingan dan mempermudah pekerjaan mereka.

Jadi memahami porsi itu penting, dan saya harus berusaha memahami porsi saya dan porsi orang lain agar tidak memakan jatah orang lain. Apakah Anda sudah memahami porsi diri Anda dan orang lain?

Orang jawa bilang “Wang Sinawang“… Saling Melihat

Hari Ini, Nisa 3 Bulan

Alhamdulillah hari ini Nisa sudah 3 bulan, apa saja ya perkembangannya:

  • Berat: 5,5 kg
  • Panjang: lupa ga diukur
  • Sudah bobo miring sendiri, kalau keterusan bisa langsung tengkurap
  • Mulai latihan tengkurap dan kadang sudah mulai mengangkat kepala
  • Sudah dapat DPT I
  • Sudah ditindik dengan anting buatan kakeknya sendiri… terima kasih Kek..
  • Sudah bisa minum ASI dari botol (ceritanya menyusul ya..)
  • Mainin jari-jarinya sendiri dan mengagumi betapa lentiknya jarinya.. hehehehe..

Apalagi ya?

Banyak hal yang perlu kami syukuri atas hadirnya Nisa di tengah-tengah kami..

Doakan ya semua lancar.. Amin..