Listrik Sudah Menyala

Alhamdulillah, setelah menunggu lebih dari setahun, akhirnya hari ini meteran listrik sudah dipasang dan kami sekeluarga bisa menikmati listrik langsung dari aliran PLN.

Sebelumnya, kami menyambung listrik dari tower air, yang sering mati apalagi kalau siang atau sore hari. Gratis memang, tetapi tidak nyaman karena selalu kuatir kalau tiba-tiba mati saat malam hari. Kasihan Nisa. Apalagi banyak warga yang juga menyambung dari tower air.

Kami tinggal di Puncak Solo Residence, dimana isu utama di sana adalah masalah listrik yang tidak kunjung beres. Selain saya, masih banyak warga yang harus menunggu (rata-rata setahun) untuk memperoleh listrik dari PLN. Janji developer juga tidak pernah tepat. Selalu dengan rumus: Bulan Berjalan + 1 😀

Saling lempar antara developer, BTL dan PLN sudah biasa, tetapi begini flownya:

Untuk membangun instalasi listrik (PLN tidak lagi bisa membangun jaringan, harus berupa hibah dari developer) Biro Teknik Listrik (BTL) harus memperoleh dana dari developer. Developer memperoleh dana dari BTN selaku bank pemberi kredit. Namun BTN akan mengucurkan dana setelah jaringan selesai dibangun. BTL mendaftarkan ke PLN jika dana dari developer sudah ada, atau dengan kata lain developer harus menalangi dulu pembangunan jaringan. Kabar burung di lapangan mengatakan bahwa pembayaran dari developer ke BTL memang agak tersendat (bahasa jawanya: icrit-icrit).

Nah dari flow tersebut (lepas dari kabar burung atau bukan) penanggung jawabnya tetap developer, karena urusan developer dengan BTL bukan urusan konsumen. Konsumen hanya berurusan dengan developer dan BTN (membayar kredit).

Herannya, rumah yang baru dibangun dua bulan kemarin, malah sudah ada meteran listriknya :O .. yang bangsat bermasalah siapa sih? Plus, hasil cek PLN menunjukkan bahwa kabel instalasi listrik oleh BTL tidak sesuai standar PLN.

Ah sudahlah. Listrik sudah menyala. Saatnya berhemat listrik lagi 😀

Puji syukur kepadamu ya Alloh..

Terima kasih PLN.

Giginya Nisa Sudah Tumbuh

Alhamdulillah, gigi Nisa sudah tumbuh.

Belum begitu kelihatan, tapi kalau diraba pakai jari terasa banget.

Sudah siap menggigit-gigit ya dik? 😉

Haaeemmm…

Puncak Solo Watch

Blog khusus untuk melihat kondisi Puncak Solo Residence.

Hari ini Nisa Genap 6 Bulan

Alhamdulillah, Nisa sudah 6 bulan..

Aktifitasnya juga semakin banyak. Belakangan sudah pingin duduk dengan cara mengangkat kepalanya. Kalau ga bisa, pasti nangis. Ya akhirnya didudukkan sambil dipangku.

Kalau mau sesuatu juga musti dituruti, misalnya mau pegang tutup botol. Kalau tidak dikasih.. hehehe.. pasti nangis.. 😀

Bisa bobo’ tanpa digendong dulu. Semakin responsif kalau diajak berkomunikasi..

Wah pokoknya banyak sekali.

Alhamdulillah.. semoga selalu diberi kesehatan ya dik..

Bapak dan ibu sayang kamu..

Tapi, sudah tiga hari ini Nisa tidak mau makan. Kalau makan pasti ada berasa mau muntah. Malam kemarinnya Nisa muntah 3 kali, tetapi tidak menangis. Badan juga tidak panas. Paginya muntah sekali.

Saat istirahat, saya pulang, Nisa sudah ceria lagi. Tadi pagi, muntah lagi saat mau disuapi dengan bubur biscuit..

Dugaan sementara, karena sudah bosen dengan biscuitnya..

Yang jelas, minum ASI-nya tambah kuat.

Doakan ya semoga Nisa cepat membaik. Amin

Cepat sembuh ya dik..

Cara Membuat Lalu Lintas Solo Macet

Anda ingin membuat lalu lintas di Solo macet?

Gampang.. tutup aja jalan Slamet Riyadi..

Hehehehe 😦

Ditulis dalam Daily, Solo. 4 Comments »

Mensubsidi Semut

Pernahkah Anda jengkel terhadap ulah semut yang menyemuti makanan atau minuman Anda? Jika iya, sudah saatnya Anda berpikir untuk mensubsidi semut-semut tersebut.

Serius. Tidak bercanda. Saya pernah membuktikannya jaman masih kos dulu. Sekarang belum lagi, tetapi saya sudah memikirkan ke arah sana.

Jaman saya masih kos di belakang kampus UNS – Solo, untuk menghemat uang saku, biasanya dibawakan makanan, lauk atau mie instant dari rumah. Beras juga, karena kebetulan ada rice cooker di kos. Uang saku mingguan memang harus dihemat supaya cukup untuk satu pekan.

Musuh terbesar saya saat itu adalah semut. Dibawain makanan enak-enak (makasih Buk), kadang musti dibuang karena disemuti. Mie instant, dari luar tampak mulus, di dalam sudah banyak semut. Waduh. Tidak bisa dibiarkan ini. Saya bisa kelaparan nantinya.

Hingga suatu saat, saya ketemu sama rekan satu SMU dan tidak tahu bagaimana hingga muncul cerita semut ini. Dia hanya bilang.. “Disubsidi saja, mereka kan butuh makanan.”

Hmm.. begitu balik ke Solo, saya ikuti anjurannya. Tepat di dekat lubang semut, saya kasih gula. Kebetulan lubangnya ada di tembok yang agak tinggi jadinya saya tempelkan gula itu ke selotip bolik-bolak. Apa yang terjadi..

Hahahaha.. sejak saat itu makanan saya bebas dari semut. Kalau semut sudah mulai kelihatan turun, saya cek apakah gulanya habis atau tidak, kalau habis saya tambahkan lagi..

Entah kapan persisnya saya berhenti melakukannya, tetapi yang jelas semutnya sudah tidak mengganggu jatah saya lagi. Mungkin si ratu semut berbaik hati dan bilang kepada semut-semut pekerjanya..

“Sudahlah, jangan lagi mengambil jatah makanannya. Kasihan, anak kos.. jauh dari orangtua. Cari penduduk lokal aja yuk”..

Anda sudah siap mensubsidi semut?

Di dalam kehidupan sehari-hari.. “semut” manakah yang perlu disubsidi?

Ditulis dalam Daily, H20, UNS. 11 Comments »

Polisi Tidur

Membaca tulisan BR di sini dan Paman Tyo di sini, saya hanya membenarkan dan setuju jika polisi tidur illegal juga dibabat habis. Membuat saya tidak bisa ngebut.. heheheh 😀

Yang menarik adalah bagian ini:

…. Nah masalah jadi membingungkan ketika warga perumahan pemasang brenjulan, setiap melewati kompleks lain, justru akan ngebut. Di kandang sendiri menuntut orang lain jinak, tapi di kebun binatang lain malah ikut liar.

Hahahaha…

Di depan rumah saya tidak perlu dipasang polisi tidur karena jalannya sudah menanjak.

Tapi karena jalannya nanjak.. ostosmastis cocok buat ngebut. Siapa tahu langsung bisa terbang..

Wuiiiiiiiiii…

Ditulis dalam Daily, H20, Indonausea. 5 Comments »