Tugas Quality Control

Tugas Quality Control itu sederhana kok, yaitu

 Tidak me-Reject barang yang bagus dan tidak meloloskan barang yang jelek.

Walaupun tugasnya sederhana, tapi HOW TO-nya yang tidak sederhana.

Iklan

Ingin Melakukan Aborsi?

Kemarin pagi sempat lihat berita di TV tentang gampangnya melakukan aborsi di Jogja. Bahkan iklan-iklannya pun ditempelkan di lokasi-lokasi strategis di Jogja. Iklannya tidak langsung menyebutkan tentang layanan aborsi, tapi biasanya berisi tentang solusi terlambat haid atau datang bulan. Mmm..

Melihat itu, istri saya bilang:

 “Mereka itu apa nggak mikir seandainya bayi yang diaborsi itu adalah satu-satunya keturunan yang mereka punyai!”

Masih ingin melakukan aborsi?

Nisa Sudah 9 Bulan

Alhamdulillah, Nisa sudah genap 9 bulan..

Belum bisa berdiri sendiri, tetapi sudah adeg-adeg (ancang-ancang berdiri). Sudah bisa berdiri tegak tapi dengan dipegangi pinggangnya. Sudah bisa makan biskuit dari tangannya sendiri. Kalau mau minum susu dari botol juga sudah bisa minta dengan cara meraih atau menunjuk botol.

Aktivitas Nisa tambah banyak, mulai merangkak. Jadinya mengkhawatirkan kalau ditinggal tanpa pengawasan, karena sudah bisa kemana-mana. Eksplorasi..  😀

Nisa CantikPekan kemarin, Nisa males banget maem. Maunya minum susu plus ngemil makan biskuit. Pekan sebelumnya juga malah kebalikannya. Males minum susu (ASI mau), tapi ngemil dan makannya banyak.

Sudah dua hari ini dicoba dikasih bubur nasi, eh maemnya mulai semangat lagi. Ya alhamdulillah kalau begitu. Bisa jadi Nisa memang sudah bosen dengan makanan sebelumnya. Jadinya setiap pagi sekarang musti beliin bubur, tapi sepertinya Ibunya Nisa mo bikin sendiri.. hore..
Nyam-nyam..

Hari Jumat pekan kemarin juga bingung. Nisa blas ga mau maem. Alhamdulillah beberapa hari sebelumnya Pak Dokter yang sempat menghilang (katanya) karena “burried under works” menghubungi saya tentang proyek penerjemahannya dia. Ya sudah, pagi itu saya SMS balik ke beliau mengenai kondisi Nisa. Wah, langsung dibales dan dibilang kalau tidak masalah. Kalau tidak mau sayur bisa diganti dengan jus. Walah-walah. Ya, alhamdulillah lagi kalau begitu.

Nah, bukan hanya itu. Nisa kalau mandi tidak mau langsung dicemplungin ke ember mandi. Maunya didudukkan di kursinya sambil menghadap ke ember, main-main air dulu, cipak-cipuk, disabunin sambil duduk, baru deh dicemplungin. Hehehehe.. 😀

Karena sudah 9 bulan, Nisa saatnya memperoleh imunisasi Campak. Insya Alloh pekan depan diimunisasi di PKU Solo.

Selalu sehat ya Dik.

Bapak dan Ibu sayang kamu.

Nyasar/Salah Jurusan

Beberapa hari yang lalu istri saya bercerita tentang beberapa mahasiswanya yang masuk UNS karena nyasar atau biasanya disebut dengan salah jurusan.

Mereka nyasar di pilihan kedua. Saya ulangi: Nyasar di pilihan kedua.

Saya cuma ketawa saja mendengar hal yang (bagi saya) lucu, dan berlanjut dengan diskusi menarik sampai nyrempet-nyrempet ke LOA (hallo Pak Bams).

Kenapa saya berpendapat bahwa hal ini lucu dan (lagi-lagi bagi saya) tidak semestinya disampaikan oleh mahasiswa baru/lama?

  1. Di dalam SMPB selalu ada pilihan I dan II entah di IPA, IPS atau IPC (Ngapain ya ada IPA dan IPS) 😀
  2. Karena itu pilihan, maka tentunya yang memilih harus membulatkan tekad, konsultasi ini itu, menghitung profit and loss, aspek ini itu dan sebagainya sehingga memutuskan bahwa Pilihan I adalah jurusan A dan pilihan II adalah jurusan B
  3. Begitu sudah memilih, seharusnya siap dengan konsekuensinya
  4. Yang ini yang lucu. Kenapa bilang salah jurusan kalau masuk ke jurusan itu berdasarkan pilihan?

Saya pernah berdiskusi dengan salah satu mahasiswa jurusan Fisika UNS yang datang ke kantor menyampaikan undangan sebagai pembicara dalam orientasi mahasiswa (yang akhirnya tidak bisa saya penuhi karena ada urusan kantor).

Dia    : Kalau lulusan Fisika itu nanti kerjanya apa ya mas?
Saya : Macem-macem. Saya IT, mas itu IT, mas itu BATAN, mas itu Telkomsel, mbak itu Dosen, mas itu buka toko komputer
Dia   : ???

Hehehehe… bingung kan? Kuliah di Fisika atau dimanapun, adalah suatu kewajiban (dalam Islam). Menuntut ilmu itu kewajiban. Bahkan kalau bisa sampai ke Cina, Jepang, Jerman, Amerika, Perancis, Australia bahkan ke Bulan.

Jadi kalau sudah kuliah maksimal dan diterima bekerja di tempat yang tidak sesuai dengan bidang ilmu ya tidak apa-apa. Kewajibannya sudah dipenuhi kok. Mungkin dengan bekerja di luar bidang ilmu malah akan memberi manfaat bagi orang lain.

Bukan masalah salah jurusan (bahkan salah jika mengatakan salah jurusan, karena ini adalah hasil pilihan), tetapi seberapa besar kemampuan untuk menghadapi dan bertanggung jawab atas pilihan yang pilih. Ini yang penting.

Saat menjelang UMPTN (sekarang SMPB), saya bingun memilih jurusan. Pingin masuk Teknik Elektro, passing grade tinggi. Akhirnya memilih Geofisika – UGM (Bapak saya lulusan Geodesi), dan Jurusan Fisika FMIPA UNS (harapannya ketemu elektro, dan memang ketemu).

Alhamdulillah saya lulus dari Fisika UNS dengan tambahan ilmu di bidang IT dan bekerja pada sektor IT.

Saya tidak salah jurusan.

Bagaimana dengan Anda?