Di Atas Sajadah Cinta

Beberapa hari yang lalu istri saya memperoleh bingkisan dari seorang mahasiswa sebagai ucapan terima kasih karena telah menjadi rater untuk skripsinya. Skripsi mahasiswa ini membahas tentang penerjemahan nama kota dari bahasa asing ke bahasa Indonesia. Misalnya: Mumbay menjadi Bombay, dan sebagainya.

Kembali ke bingkisan, ternyata isinya buku berjudul “Di Atas Sajadah Cinta” dan jilbab. Alhamdulillah..

Buku ini merupakan tulisan dari Habiburrahman El Shirazy dan diterbitkan oleh Pustaka Republika. Judul bukunya diambil dari cerita pertama.

Cerita berjudul “Di Atas Sajadah Cinta” bisa anda baca di situs CeritaCinta.Net.

Saya baru selesai pada cerita nomer 5. Nisa kalau melihat saya membaca, juga ikut-ikut pegang bukunya yang berisi pengenalan huruf. 😀

Buku ini layak untuk dibaca, baik yang masih lajang maupun yang sudah berkeluarga.

PS: Kalau ada yang butuh rater berkaitan dengan penerjemahan silahkan hubungi saya ya.. 😀

Harus Lulus IELTS Demi Menjadi Jagal Sapi

Beberapa waktu yang lalu istri saya mengajar sekelompok peserta kursus di Pusat Bahasa UNS, yang berasal dari Pasar Kliwon Solo, bahkan ada yang datang langsung dari Bali. Mereka semua keturunan Arab.

Saat ditanyakan kenapa mengambil kursus, ternyata jawabannya adalah mereka harus lulus IELTS agar bisa bekerja di Australia. Paspor, visa dan sebaganya sudah diurus, tinggal IELTS saja yang belum lolos, sehingga mereka mengambil kursus singkat (privat) agar bisa mengikuti tes IELTS yang akan diselenggarakan dalam bulan Maret ini.

Mereka ternyata secara karir, penghasilan dan keluarga sudah mapan dan pergi ke Australia bukan untuk diri mereka sendiri, tetapi ternyata membawa misi yang lebih besar, yaitu agar anak-anak mereka bisa sekolah di sana dan lebih maju daripada orang tuanya.

Satu hal yang menarik adalah pekerjaan yang menanti mereka di Australia. Bukan pekerjaan kantoran berdasi, tetapi menjadi jagal (tukang penyembelih) sapi. Bisa dibayangkan pekerjaannya seperti apa. Mungkin secara penghasilan lebih besar daripada di Indonesia, tetapi mengapa mereka hanya bekerja sebagai jagal sapi? Di Australia lagi?

Setelah ditanyakan lebih jauh, ternyata pekerjaan mereka bukan hanya sekedar menyembelih sapi, tetapi membawa misi agar semua proses penyembelihannya HALAL, sehingga daging-dagingnya juga halal dikonsumsi. Daging ini diekspor ke Arab Saudi dan pihak importir meminta adanya label halal. Ternyata pada penyembelihan sebelumnya mereka hanya menggunakan kaset untuk melafalkan “Bismillahirrohmanirrohim”. Oleh karena itu, pihak importir meminta ada tukang sembelih yang beragama Islam dan saat menyembelih bacaan basmallah harus didengar oleh saksi yang didatangkan dari semacam lembaga (semacam MUI) Malaysia.

Hebat-hebat, saya salut terhadap mereka dan perjuangannya. Semoga Alloh memperlancar dan memberikan kemudahan bagi urusan-urusan mereka. Amin.

Menunjukkan Arah Kepada Orang Asing Hanya Dengan “Yes” dan “No”

Panduan singkat bagi Anda yang minim kemampuan berbahasa asing (Inggris), tetapi ingin menjelaskan arah suatu tempat kepadanya. Karena katanya orang Indonesia dikenal ramah, maka Anda memang seharusnya memberi bantuan kepada orang asing yang merasa “In The Middle Of No Where” atau “Lost in Space” itu. Hehehe…

Langkah I

Gambarkan denah, dengan cara apapun. Misalnya tidak ada kertas, gunakan daun lontar cara apapun untuk menggambar denah.

Langkah II

Setelah menggambar denah, beri tanda silang pada jalan yang tidak boleh dilewati dan bilang “No” (boleh juga disertai gelengan kepala) dan beri tanda centang pada jalan yang boleh dilewati dan bilang “Yes“. Tunjukkan secara jelas tempat tujuan dan bilang “Yes” dengan mantap sambil tersenyum.

Nah, gitu aja kok.

Gampang kan..

Panduan ini boleh dimodifikasi selama tidak mengubah arah tujuannya 😀
Jika bisa menebak asal dari orang asing ini, Anda bisa ganti kata Yes dan No dengan bahasa mereka. Misalnya untuk orang Spanyol: Si (Yes) dan No (No). Orang Perancis: Oui (Yes) dan Non (No).  Tapi saya pikir kata Yes dan No sudah umum kok.

Kira-kira ini contoh denahnya. Selamat mencoba.

Denah Yes dan No

You Going Where? Mudik..

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Semoga Alloh menerima semua amal ibadah kita. Amin.

Arief & Keluarga

Membedakan “Countable Noun” dengan “Uncountable Noun”

English version can be found here.

Tulisan ini terjemahan bebas dari posting terdahulu tentang cara membedakan “Countable Noun” (benda yang dapat dihitung) dan “Uncountable Noun” (benda yang tidak dapat dihitung).

Dulu saya sering bingung mana yang “countable” dan mana yang “uncountable”. Untunglah istri saya dengan senang hati menjelaskan perbedaannya, yang ternyata sangat sederhana.

Cara membedakan mana yang “countable” dan mana yang “uncountable” adalah dengan membagi “benda” tersebut menjadi beberapa bagian.

Bingung? Berikut penjelasannya..

Countable Noun:
Jika setiap bagian dari hasil pembagian benda itu TIDAK merepresentasikan benda yang dibagi, maka benda itu termasuk “countable noun”.

Contoh

Jika Anda memecah belah kursi hingga berantakan entah dengan cara menggergaji, digigit-gigit atau dipatahin pakai tangan, maka tentu saja potongan-potongan kursi tidak bisa disebut sebagai kursi. Jadi kursi adalah “countable noun”.

Uncountable Noun:
Jika setiap bagian dari hasil pembagian benda itu merepresentasikan benda yang dibagi, maka benda itu termasuk “uncountable noun”.

Contoh

Jika Anda memecah belah gula hingga berantakan, maka tentu saja serpihan-serpihannya tetap merupakan gula.
Jadi gula adalah “uncountable noun”.

Nah, pelajaran berhitung sampai di sini dulu.

Semoga bermanfaat ya.. 😀

The Difference Between “Like” And “Would Like”

Here is another English lesson from my wife. It is about the difference between “Like” and “Would Like“.

You can see the difference from two sentences below:

[1]. I like to drink a cup of coffee.

[2]. I would like to drink a cup of coffee.

Thanks to David B Dale for the correction.


On the sentence [1], “like” means for a long term. Either for now or tomorrow or the day after tomorrow, I still like to drink coffee.

“Would like” on sentence [2] means for a short term. I like to drink coffee only at that time (or after) I said that.

Have questions or feedbacks? Please do not hesitate to write down below.

Indonesia Now on Metro TV

“A fresh look at current events and the culture of Indonesia is now available to viewers around the world.

Metro TV has launched a new weekly half-hour English-language program titled “Indonesia Now,” aimed at providing an objective view of the country and region. The show debuted on September 1.”
(http://www.metrotvnews.com/indonesianow)

During my “TV-Channel walking” 😀 when I watched TV last night, I found something new on Metro TV, a program named “Indonesia Now”. This program is in English and inform about Indonesia current issues. The news presenters, Kania Sutisnawinata and Dalton Tanonaka, speaks in really understandable and clear English. Their pronounciation helped me to understand the message and of course I can improve my English listening ability.

If you want to know Indonesia current issues narated in English language, just stay tune on Metro TV every Friday at 7.30 until 08.00 PM. Other English news program can be watched everyday at 07.30 AM, that is Metro This Morning.

Ditulis dalam Daily, English. 4 Comments »