Menunjukkan Arah Kepada Orang Asing Hanya Dengan “Yes” dan “No”

Panduan singkat bagi Anda yang minim kemampuan berbahasa asing (Inggris), tetapi ingin menjelaskan arah suatu tempat kepadanya. Karena katanya orang Indonesia dikenal ramah, maka Anda memang seharusnya memberi bantuan kepada orang asing yang merasa “In The Middle Of No Where” atau “Lost in Space” itu. Hehehe…

Langkah I

Gambarkan denah, dengan cara apapun. Misalnya tidak ada kertas, gunakan daun lontar cara apapun untuk menggambar denah.

Langkah II

Setelah menggambar denah, beri tanda silang pada jalan yang tidak boleh dilewati dan bilang “No” (boleh juga disertai gelengan kepala) dan beri tanda centang pada jalan yang boleh dilewati dan bilang “Yes“. Tunjukkan secara jelas tempat tujuan dan bilang “Yes” dengan mantap sambil tersenyum.

Nah, gitu aja kok.

Gampang kan..

Panduan ini boleh dimodifikasi selama tidak mengubah arah tujuannya 😀
Jika bisa menebak asal dari orang asing ini, Anda bisa ganti kata Yes dan No dengan bahasa mereka. Misalnya untuk orang Spanyol: Si (Yes) dan No (No). Orang Perancis: Oui (Yes) dan Non (No).  Tapi saya pikir kata Yes dan No sudah umum kok.

Kira-kira ini contoh denahnya. Selamat mencoba.

Denah Yes dan No

Iklan

You Going Where? Mudik..

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Semoga Alloh menerima semua amal ibadah kita. Amin.

Arief & Keluarga

eNggih

Selama bersama Nisa, istri saya berusaha melakukan verbalisasi (bener ga ya?) setiap tindakan yang dia lakukan terhadap Nisa. Misal saat gantiin popok, istri saya bilang “Popoknya digantiin dulu nggih?” atau kalau si Nisa bersin dibilang gini “Oh, dik Nisa bersin ya? Enggih?”

Jadilah kata “enggih/nggih” (yang berarti “Iya/ya” dalam bahasa Indonesia) menjadi populer dalam komunikasi kami dengan Lisa Nisa. Termasuk bunyi “uuuuuuu” dan “Ajeng matur nopo?” (Mau ngomong apa?). Favorit yang lain adalah “Senyumnya mana?”, dan Nisa kadang-kadang memang tersenyum, semoga bukan kebetulan.

Saya tidak ingat kapan mulainya, tetapi yang jelas itu jam 3-an pagi. Nisa sudah bangun dan tidak mau tidur lagi. Saya taruh di bantal dan dipangku. Saat saya ngoceh ngobrol (ngliling/ngudang) dengan Nisa, dia mengeluarkan suara “Aooo” dan senyum-senyum. Wah, apakah Nisa sudah bisa dililing?
Semenjak itu, kalau tidak bobo, Nisa pasti dililing dengan suara-suara khas bayi yang lagi belajar menggumamkan sesuatu.

Nah, tadi pagi, jam 2.30-an, Nisa sudah bangun dan menangis karena lapar. Ditidurkan sambil digendong juga tidak mau. Mungkin mau main dulu. Ya sudah, Nisa ditaruh dan mulailah bapak dan ibunya ngliling.

Waktu ditanya “Dik Nisa mboten ngantuk toh? Enggih?”…

Eh Nisa menjawab dengan kata “eNggih” sambil senyum-senyum..

Ini adalah kata “eNggih” yang dia ucapkan secara jelas. Hehehe.. dengan begitu kami bisa mengajarinya ngomong kata-kata lain yang menggunakan bilabial konsonan, misalnya: papapa, mamama, bububu, mimimi, atau apapun yang menggunakan konsonan “p, m dan b”, yang ditimbulkan dari bibir.

Karena bayi atau anak-anak belajar bahasa dengan metode “Language Acquisition“, maka cara mengajarinya dengan cara mengulang kata-kata atau kalimat yang sama, dan bisa juga disertai obyek.

Saat ini, kami masih fokus pada kata/kalimat di atas, dan setiap kali minum, istri saya memverbalisasi dengan kata “mik” dan kalau pipis dengan kata “pipis”. Kata “bu” untuk ibu dan “pak” untuk bapak juga sudah mulai kami berikan.

Doakan ya semoga berhasil.