Tugas Quality Control

Tugas Quality Control itu sederhana kok, yaitu

 Tidak me-Reject barang yang bagus dan tidak meloloskan barang yang jelek.

Walaupun tugasnya sederhana, tapi HOW TO-nya yang tidak sederhana.

Iklan

You Going Where? Mudik..

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Semoga Alloh menerima semua amal ibadah kita. Amin.

Arief & Keluarga

Bajaj Membayar Pegawainya Untuk Tinggal Di Rumah

Ini bukan bajaj-nya Bajuri, tetapi Bajaj Auto, yang terkenal di Indonesia dengan Bajaj Pulsar-nya.

Mereka merumahkan sebagian pegawainya dan membayar gajinya secara penuh sampai pensiun.
Keputusan yang tidak biasa ini terjadi karena mereka memindahkan pusat produksi motornya dari Akurdi ke Pune, India.  Keputusan yang tepat bagi perusahaan (karena mereka menghemat $25 per kendaraan) dan tidak menimbulkan kerugian bagi pegawainya.

Info lengkap ada di sini.

Akankah terjadi di Indonesia?

Ditulis dalam Daily, Management. 4 Comments »

Memahami Porsi: Jangan Salahkan Penjaga Pintu Perlintasan Kereta Api Jika Anda Ketrabak Kereta

Hari Kamis (17/05/2007) kemarin, pas kebetulan hari libur (walaupun tidak dapat cuti nasional), saya pergi ke toko alumunium untuk membeli rel korden di daerah Widuran – Solo. Mendekati perempatan Panggung, sudah kelihatan bahwa ada antrian panjang kendaraan menuju pintu perlintasan KA di dekat Pom Bensin Ledoksari.

Wah, macet nih, bakalan lama. Tapi karena jalan yang lain harus memutar mendingan ikut ngantri saja, sambil lihat kereta lewat. Hehehehe.. soalnya kalau dari rumah cuma kedengeran suara kereta-nya dan suara tang ting tung dari horn-nya stasiun Jebres. Ditungguin lama kok ga nongol-nongol ya. Tapi ya santai saja, biasanya memang kalau baru ditutup, berarti kereta baru mulai berjalan dari stasiun Balapan. Tapi saya salah menduga. Pintu perlintasan sepertinya sudah ditutup lama, sehingga banyak pengendara motor yang mengklakson penjaga perlintasan agar membuka palang. Maklum juga sih cuaca panas.

Waktu saya noleh ke kanan, ternyata ada bendera kuning dan ada beberapa pekerja sedang membenahi rel KA. Sepertinya berkaitan dengan bantalan rel. Penjaga perlintasan keluar dari posnya dan mendekati para pekerja, tidak jelas apa yang mereka katakan, tetapi sepertinya meyakinkan apakah rel sudah bisa dilewati. Dua kali dia bolak-balik ke pos dan saat dia akan kembali ke pos setelah melakukan pengecekan, ada seorang pengendara motor yang meneriakinya. Tidak jelas yang diteriakkan, tetapi ada kata umpatan yang benar-benar terdengar jelas yaitu “A*U”. Si penjaga pun menoleh dan berkata sesuatu, tapi segera dia kembali ke pos. Tidak lama kemudian, sebuah rangkaian KA bergerak perlahan mendekati perlintasan, dan saya lihat tepat di daerah yang sedang dibenahi, gerbong KA terlihat miring.

KA dengan sukses melintasi perlintasan menuju ke Stasiun Jebres yang berjarak kurang lebih 200 m dari perlintasan. Penjaga perlintasan membuka pintu perlintasan, si pengendara motor itupun segera tancap gas, dan saya pun menyempatkan diri melihat wajahnya.

Memahami Porsi

Ini bukan masalah porsi makan atau minum, tetapi memahami porsi pekerjaan dan bagaimana orang laian bekerja untuk keselamatan kita. Coba bayangkan kalau misalnya si penjaga perlintasan membukakan pintu hanya untuk menuruti bapak emosional yang tidak tahu cara berbicara dengan bahasa manusia itu. Pastilah bakalan kacau, bisa jadi ada yang ketabrak kereta, atau ada yang menabrak kereta.

Saya yakin bahwa si petugas harus menutup pintu lebih awal karena dia perlu mengetahui apakah rel sudah aman untuk dilalui dan memberikan informasinya ke stasiun sebelumnya (Balapan). Jika tidak dikonfirmasi, bagaimana kalau kereta terguling atau keluar lintasan? Siapa yang bertanggung jawab? Ujung-ujungnya si penjaga juga yang kena kan?

Sering kita tidak bisa melihat porsi pekerjaan orang lain, atau orang lain tidak bisa melihat porsi pekerjaan kita. Kita melihat pekerjaan orang lain itu enak, bisa santai, dapat bonus, gaji gedhe. Tapi tidak melihat tanggung jawab dan level pekerjaan orang itu. Atau mungkin orang lain melihat kita bekerja sedemikian enak, dapat libur, bonus, gaji gedhe, cuma di depan komputer saja, tetapi tidak melihat bahwa apa yang kita lakukan sebenarnya untuk memperingan dan mempermudah pekerjaan mereka.

Jadi memahami porsi itu penting, dan saya harus berusaha memahami porsi saya dan porsi orang lain agar tidak memakan jatah orang lain. Apakah Anda sudah memahami porsi diri Anda dan orang lain?

Orang jawa bilang “Wang Sinawang“… Saling Melihat

UPDATE – Surat Terbuka Untuk Ray White Solo: Kapan Listrik di Puncak Solo Residence Menyala?

Email saya ke Ray White Solo <solo.solo@raywhite.co.id> mental dengan reason seperti di bawah ini. Padahal alamat emailnya sama persis dengan yang mereka tampilkan di sini. 😦

Harus dicoba pakai surat biasa kalau begitu.

——–

System Administrator <postmaster@raywhite.co.id>    
to me
   
show details
     Mar 14 (22 hours ago)
Your message

 To:      Ray White Solo
 Cc:      Ray White Indonesia
 Subject: Kapan Listrik di Puncak Solo Residence Menyala?
 Sent:    Wed, 14 Mar 2007 16:33:31 +0700

did not reach the following recipient(s):

Ray White Solo on Wed, 14 Mar 2007 16:40:47 +0700
   The recipient name is not recognized
       The MTS-ID of the original message is: c=us;a= ;p=information ?
te;l=MAIL0703140940GCH6LW0G
   MSEXCH:IMS:Information & Technology:RAYWHITE.CO.ID:MAIL 0 (000C05A6)
Unknown Recipient

——-

Surat Terbuka Untuk Ray White Solo: Kapan Listrik di Puncak Solo Residence Menyala?

Yth. Ray White Solo,

Saya membeli rumah di Puncak Solo Residence Blok H.20, sampai sekarang belum bisa menempati rumah tersebut karena listrik belum tersambung. Padahal dulu saya dikejar-kejar oleh Ray White (marketing saya dulu Iin, sejak naik jabatan dilimpahkan ke Agung) agar segera realisasi karena Ray White (atau developer yang sekantor sama Ray White) butuh dana segera cair untuk membangun rumah-rumah yang lain.

Sudah lebih dari 6 bulan sejak realisasi kredit, dan saya belum bisa menempati rumah karena  tidak adanya listrik. Jaman sekarang listrik merupakan hal yang penting, sebagaimana Anda di Ray White bisa membaca/mengakses email ini. Begitu juga saya. Yang Anda tawarkan adalah rumah sehat sederhana (yang disubsidi pemerintah), tetapi bukan berarti tanpa listrik kan?

Kenapa masalah listrik tidak dibuka di awal saat Anda promosi? Anda bisa bilang kalau listrik tidak bisa dijamin. Apa karena takut tidak ada yang beli? Walaupun sekarang di BTN Mojosongo pun saya dengar (dari marketing Anda) pernah ada calon konsumen yang membatalkan membeli rumah di Puncak Solo karena diberi informasi tidak ada listrik. Sama saja kan?

Anda sepertinya menyediakan solusi rumah sehat sederhana, harga murah, tapi malah menjerumuskan konsumen pada ketidakpastian. Ketidakpastian kapan bisa menempati rumah yang diidam-idamkan. Saya yakin Anda bisa membayangkan (atau tidak??) rasanya jika sudah membayar angsuran kredit, tapi belum bisa menikmati apa yang Anda bayar setiap bulannya.

Yang saya tanyakan kepada Anda adalah:

Apakah ada kompensasi yang saya terima atas tidak adanya listrik karena staff Anda tidak menjelaskannya di awal? Kalau ada, apa wujudnya?

Kenapa saya menanyakan kompensasi? Ini sama halnya ketika Anda meminta saya segera realisasi agar segera ada kucuran dana dari Bank. Sekarang giliran saya menanyakan apa yang Anda berikan kepada saya. Fair kan?

Saya sudah menghubungi marketing Anda dan menanyakan kapan listrik menyala, mereka bilang tidak berani jawab karena tidak ada kepastian dari pihak developer (yang sekantor sama Ray White). Ini yang selalu bikin saya kesal. Tidak ada kepastian.

Oleh karena itu saat ini langkah yang saya ambil adalah:

  1. Tidak melakukan serah terima kunci, sampai listrik menyala
  2. Mengajukan KLAIM terhadap developer atas kerusakan terjadi pada bangunan fisik rumah saya (misal: retak, kusen melengkung, dan sebagainya) yang terjadi selama masa menunggu serah terima kunci (pada nomer 1). Jika nanti sudah terima kunci-pun, saya masih punya hak atas garansi selama 100 hari. Jika nanti ada masalah, tetap akan saya KLAIM-kan ke developer.
  3. Menduplikasi email ini dan mempublikasikannya melalui BLOG saya (https://riefsa.wordpress.com) agar masyarakat lebih bisa berhati-hati dalam membeli dan memilih rumah.

Di dalam lampiran (atau bisa diakses di: http://www.plnjateng.co.id/index.php?isi=pp&cat=detil_keluhan&id=1055) bisa Anda lihat jawaban dari pihak PLN atas keluhan saya kenapa pemasangan listrik di Puncak Solo lama. Anda juga bisa lihat bahwa seharusnya Anda bisa menginformasikan hal-hal berkaitan prosedur pemasangan listrik sejak awal ke calon konsumen.

Saya menunggu tanggapan dari Ray White Solo mengenai email saya ini. Jika membutuhkan menghubungi saya langsung, nomor telepon saya ada di marketing Anda.

Terimakasih.

Arief Fajar Nursyamsu
Puncak Solo Residence H.20

Bagi Saya, Keluarga Itu Prioritas Utama

Ketika saya masuk ke perusahaan saya bekerja sekarang, yang saya sampaikan pertama kali sebelum negosiasi gaji adalah: “Saya tidak bekerja overtime”.. dan alhamdulillah diterima 😀

Bagi pekerja seperti saya yang bekerja Senin-Jumat jam 08.00-17.00 dan Sabtu jam 08.00-12.00 praktis waktu yang tersedia untuk keluarga hanya sedikit sekali. Katakanlah saya tidur jam 22 dan bangun jam 04.30, maka waktu yang tersedia kasarannya hanyalah 5 + 3.5 jam, kecuali hari Sabtu yang masuk setengah hari. Itupun juga diisi dengan aktifitas rutin seperti mandi dan melakukan beberapa pekerjaan rumah lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana sedikitnya waktu buat berkumpul bersama keluarga.

Saya merasakan banyak waktu bersama dengan istri saat kemarin menjalani perawatan di PKU pasca operasi sesar. Alhamdulillah kami dikaruniai putri pertama yang cantik dan sehat. Saya mengambil cuti 4 hari dengan persetujuan langsung dari Pimpinan, walaupun HRD tidak menyetujui. Saya nekat? Iya. Pimpinan memang menyarankan saya untuk ambil cuti karena itu adalah hak saya. Kata HRD sih, yang melahirkan kan istri saya, bukan saya, jadi ga bisa ambil cuti.. WTF.. Saya kan mengambil hak saya. Bukan mencuri.

Saya tidak habis pikir dengan alasan konyol itu. Membuat saya termangu cukup lama. What so ever.. Pimpinan sudah setuju, ya saya nikmati saja cuti saya. Tapi saya masih mikirin juga dan jadi bertanya dalam hati. Bagaimana jika istrinya melahirkan? Apakah akan ditinggal begitu saja? Ups.. itu sudah urusannya dia, bukan area saya.. So.. silahkan saja..

Keluarga bagi saya merupakan prioritas utama, alasannya singkat dan jelas. Kalau kehidupan keluarga/rumah tangga baik, tentu saya bisa fokus ke pekerjaan, sebaliknya kalau tidak, di tempat kerja ga bakalan bisa konsen, pekerjaan ga selesai..

Apakah keluarga juga menjadi prioritas utama Anda juga?