Di Atas Sajadah Cinta

Beberapa hari yang lalu istri saya memperoleh bingkisan dari seorang mahasiswa sebagai ucapan terima kasih karena telah menjadi rater untuk skripsinya. Skripsi mahasiswa ini membahas tentang penerjemahan nama kota dari bahasa asing ke bahasa Indonesia. Misalnya: Mumbay menjadi Bombay, dan sebagainya.

Kembali ke bingkisan, ternyata isinya buku berjudul “Di Atas Sajadah Cinta” dan jilbab. Alhamdulillah..

Buku ini merupakan tulisan dari Habiburrahman El Shirazy dan diterbitkan oleh Pustaka Republika. Judul bukunya diambil dari cerita pertama.

Cerita berjudul “Di Atas Sajadah Cinta” bisa anda baca di situs CeritaCinta.Net.

Saya baru selesai pada cerita nomer 5. Nisa kalau melihat saya membaca, juga ikut-ikut pegang bukunya yang berisi pengenalan huruf. 😀

Buku ini layak untuk dibaca, baik yang masih lajang maupun yang sudah berkeluarga.

PS: Kalau ada yang butuh rater berkaitan dengan penerjemahan silahkan hubungi saya ya.. 😀

Iklan

You Going Where? Mudik..

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Semoga Alloh menerima semua amal ibadah kita. Amin.

Arief & Keluarga

Membedakan “Countable Noun” dengan “Uncountable Noun”

English version can be found here.

Tulisan ini terjemahan bebas dari posting terdahulu tentang cara membedakan “Countable Noun” (benda yang dapat dihitung) dan “Uncountable Noun” (benda yang tidak dapat dihitung).

Dulu saya sering bingung mana yang “countable” dan mana yang “uncountable”. Untunglah istri saya dengan senang hati menjelaskan perbedaannya, yang ternyata sangat sederhana.

Cara membedakan mana yang “countable” dan mana yang “uncountable” adalah dengan membagi “benda” tersebut menjadi beberapa bagian.

Bingung? Berikut penjelasannya..

Countable Noun:
Jika setiap bagian dari hasil pembagian benda itu TIDAK merepresentasikan benda yang dibagi, maka benda itu termasuk “countable noun”.

Contoh

Jika Anda memecah belah kursi hingga berantakan entah dengan cara menggergaji, digigit-gigit atau dipatahin pakai tangan, maka tentu saja potongan-potongan kursi tidak bisa disebut sebagai kursi. Jadi kursi adalah “countable noun”.

Uncountable Noun:
Jika setiap bagian dari hasil pembagian benda itu merepresentasikan benda yang dibagi, maka benda itu termasuk “uncountable noun”.

Contoh

Jika Anda memecah belah gula hingga berantakan, maka tentu saja serpihan-serpihannya tetap merupakan gula.
Jadi gula adalah “uncountable noun”.

Nah, pelajaran berhitung sampai di sini dulu.

Semoga bermanfaat ya.. 😀

Judul Blog Ini

Karena istri sudah tidak belum hamil lagi dan Nisa sudah lahir. Maka judul blog ini saya ganti tambah menjadi “IT, Translation, Pregnancy & Parenting“. Semoga tidak kepanjangan ya?

Okay, please sit back, relax and enjoy the show.. 😀

Dijajah Belanda: 350 Tahun – Mother Tongue: Bahasa Jawa – Second Language: Bahasa Indonesia – Ga Ngerti Bahasa Belanda

“So your second language must be Dutch?”, tanya seorang buyer kepada saya saat sedang dalam perjalanan menuju pabrik. “No sir. Our second language is English”, jawab saya. Belakangan saya ketahui dari istri saya kalau jawaban saya salah. Seharusnya jawaban saya adalah “Bahasa Indonesia”.

Mungkin si mister yang asli dari Inggris ini mengira kalau bekas jajahan “londo” (baca: Belanda) selama 350 tahun pasti fasih berbahasa Belanda, padahal tidak. Beda dengan India, Singapura dan Malaysia yang dijajah londo Inggris. Sebagian besar bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Tapi Malaysia sepertinya ingin kembali ke bahasa Melayu dengan menerjemahkan “Mouse” (dalam konteks komputer) menjadi “tetikus”, atau “Plug and Play” dengan “tusuk dan mainkan” hehehehe 😀

Ups. Jangan berkecil hati dulu. Orang Indonesia termasuk orang yang bisa berbicara dalam Multi-Lingual. Bahasa yang umumnya dikuasai adalah:

  1. Bahasa Suku, misalnya Jawa (belum termasuk turunannya: Ngoko, Krama, Madya, dll)
  2. Bahasa Nasional, yaitu Bahasa Indonesia
  3. Bahasa Asing, umumnya Bahasa Inggris. Kalau sudah bisa berbicara dengan bahasa di nomor 3, sudah dikatakan sebagai Multi-Lingual speaker, bukan lagi Bilingual.

Kenapa ya kok Bahasa Belanda tidak bisa kita warisi? Bisa jadi karena:

  1. Dulu justru penjajah Belanda yang belajar bahasa Indonesia untuk mengambil hati rakyat Indonesia. Contohnya ada di sini (tidak serius).
  2. Hanya orang tertentu yang bisa mempelajari Bahasa Belanda karena tugas belajar, misalnya di sekolahkan oleh Belanda, atau sekolah di sekolah Belanda.
  3. Karena hanya orang tertentu yang menikah dengan meneer Belanda, atau anaknya meneer. Atau mungkin karena jamu Nyonya Meneer. 😀
  4. Semangat nasionalisme yang tinggi, sehingga memilih mengajarkan bahasa Indonesia, daripada bahasa Belanda.
  5. … ada yang mau nambah?

Waktu pameran di Jogja, ada buyer dari Belanda yang bertransaksi dengan saya. Melihat istri saya yang sedang hamil, Mr. Hoob Van Son ini menuliskan sebuah pesan di buku catatan kami, yang berisi ucapan selamat atas kehamilan. Pesannya ditulis dalam bahasa Inggris yang salah dalam ejaan tapi understandable..

Bagaimana dengan Anda? Bilingual atau Multi-Lingual?

The Difference Between “Like” And “Would Like”

Here is another English lesson from my wife. It is about the difference between “Like” and “Would Like“.

You can see the difference from two sentences below:

[1]. I like to drink a cup of coffee.

[2]. I would like to drink a cup of coffee.

Thanks to David B Dale for the correction.


On the sentence [1], “like” means for a long term. Either for now or tomorrow or the day after tomorrow, I still like to drink coffee.

“Would like” on sentence [2] means for a short term. I like to drink coffee only at that time (or after) I said that.

Have questions or feedbacks? Please do not hesitate to write down below.

Alhamdulillah.. Akhirnya Diwisuda Juga

Hari Sabtu (09-12-2006), istri saya sudah menjalani prosesi wisuda Pascasarjana di Universitas Sebelas Maret. Istri saya lulus dari Program Studi Linguistik – Penerjemahan Program Pascasarjana UNS, sehingga ada tambahan gelar M.Hum (Magister Humaniora) di belakang S.Pd-nya. Bahagia sekali karena saat diwisuda sudah ada si bayi di dalam perut, jadi bisa ikutan diwisuda sekalian 😀

Wisuda Program Pascasarjana, Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), dan Sarjana di UNS diselenggarakan 4 kali dalam satu tahun ajaran, yaitu bulan Juli, September, Desember, dan Maret. Sayang sekali saya tidak membawa data lengkap jumlah wisudawan untuk periode kali ini. Saya berikan update-nya lain waktu.

Prosesi Wisuda di UNS, biasanya diawali dengan gladi bersih sehari/dua hari sebelumnya. Tapi umumnya pada saat gladi bersih ini adalah saat pertama kali calon wisudawan mendengarkan dan menyanyikan Mars UNS. He he he he..
Setiap orang dikasih satu lembar copy-an mars UNS, mungkin tujuannya biar diapalin di rumah.. 😀

Di hari H, datang ke auditorium jam 06.30, soalnya calon wisudawan dibarisin dulu di kantor pusat, tujuannya biar saat masuk ke Auditorium bisa langsung pas ditempat duduknya. Ga perlu cari-cari lagi.

Setelah semua calon wisudawan masuk Auditorium (pendamping masuk lebih dulu dan duduk di balkon), nah yang calon wisudawan yang telat, baru boleh masuk setelah semua teman-temannya duduk.

Kemudian senat universitas masuk, dan acara dimulai.. bla bla bla.. banyak soalnya..

Saya ambil posisi duduk di balkon tepat di atas deretan calon wisudawan dimana salah satunya adalah istri saya. Sehingga saya bisa ambil foto-nya dari atas. Sayang tidak ada digital kamera, jadi ga bisa langsung diupload ke sini.

Karena dari program Pascasarjana, maka urutannya paling awal, kebetulan Prodi Linguistik juga merupakan Prodi tertua.

Setelah acara wisuda di Auditorium UNS selesai, dilanjutkan acara pelepasan wisuda di Pascasarjana. Di sini acara intinya adalah pemberian kenang-kenangan kepada wisudawan, makan, dan pulang.. 😀
Di sana saya ketemu dengan Pak Santo (Dosen jurusan Komunikasi FISIP UNS – penggagas Jurnalistik Media Ceta Online) yang juga wisuda S-2, dan Pak Bambang & Pak Karsono dari MM. Ternyata salah satu wisudawan dulunya adalah peserta training “Pembuatan Materi Kuliah Online” yang saya ajar.

Oh ya, ternyata ada juga temen kuliah saya seangkatan yang diwisuda hari itu, ada 4 orang: Keken, Fredy, Wisnu dan Adrian. Selamat ya buat kalian.

Untuk istriku, selamat ya atas wisudanya. Komplit deh. Alhamdulillah. Semoga membawa berkah. Amin..

Hik hik.. jadi pingin sekolah lagi. Kalau ada kesempatan, saya mo kuliah di Jurusan Teknologi Pendidikan. Doakan yah.. 😀