Ingin Melakukan Aborsi?

Kemarin pagi sempat lihat berita di TV tentang gampangnya melakukan aborsi di Jogja. Bahkan iklan-iklannya pun ditempelkan di lokasi-lokasi strategis di Jogja. Iklannya tidak langsung menyebutkan tentang layanan aborsi, tapi biasanya berisi tentang solusi terlambat haid atau datang bulan. Mmm..

Melihat itu, istri saya bilang:

 “Mereka itu apa nggak mikir seandainya bayi yang diaborsi itu adalah satu-satunya keturunan yang mereka punyai!”

Masih ingin melakukan aborsi?

Nyasar/Salah Jurusan

Beberapa hari yang lalu istri saya bercerita tentang beberapa mahasiswanya yang masuk UNS karena nyasar atau biasanya disebut dengan salah jurusan.

Mereka nyasar di pilihan kedua. Saya ulangi: Nyasar di pilihan kedua.

Saya cuma ketawa saja mendengar hal yang (bagi saya) lucu, dan berlanjut dengan diskusi menarik sampai nyrempet-nyrempet ke LOA (hallo Pak Bams).

Kenapa saya berpendapat bahwa hal ini lucu dan (lagi-lagi bagi saya) tidak semestinya disampaikan oleh mahasiswa baru/lama?

  1. Di dalam SMPB selalu ada pilihan I dan II entah di IPA, IPS atau IPC (Ngapain ya ada IPA dan IPS) 😀
  2. Karena itu pilihan, maka tentunya yang memilih harus membulatkan tekad, konsultasi ini itu, menghitung profit and loss, aspek ini itu dan sebagainya sehingga memutuskan bahwa Pilihan I adalah jurusan A dan pilihan II adalah jurusan B
  3. Begitu sudah memilih, seharusnya siap dengan konsekuensinya
  4. Yang ini yang lucu. Kenapa bilang salah jurusan kalau masuk ke jurusan itu berdasarkan pilihan?

Saya pernah berdiskusi dengan salah satu mahasiswa jurusan Fisika UNS yang datang ke kantor menyampaikan undangan sebagai pembicara dalam orientasi mahasiswa (yang akhirnya tidak bisa saya penuhi karena ada urusan kantor).

Dia    : Kalau lulusan Fisika itu nanti kerjanya apa ya mas?
Saya : Macem-macem. Saya IT, mas itu IT, mas itu BATAN, mas itu Telkomsel, mbak itu Dosen, mas itu buka toko komputer
Dia   : ???

Hehehehe… bingung kan? Kuliah di Fisika atau dimanapun, adalah suatu kewajiban (dalam Islam). Menuntut ilmu itu kewajiban. Bahkan kalau bisa sampai ke Cina, Jepang, Jerman, Amerika, Perancis, Australia bahkan ke Bulan.

Jadi kalau sudah kuliah maksimal dan diterima bekerja di tempat yang tidak sesuai dengan bidang ilmu ya tidak apa-apa. Kewajibannya sudah dipenuhi kok. Mungkin dengan bekerja di luar bidang ilmu malah akan memberi manfaat bagi orang lain.

Bukan masalah salah jurusan (bahkan salah jika mengatakan salah jurusan, karena ini adalah hasil pilihan), tetapi seberapa besar kemampuan untuk menghadapi dan bertanggung jawab atas pilihan yang pilih. Ini yang penting.

Saat menjelang UMPTN (sekarang SMPB), saya bingun memilih jurusan. Pingin masuk Teknik Elektro, passing grade tinggi. Akhirnya memilih Geofisika – UGM (Bapak saya lulusan Geodesi), dan Jurusan Fisika FMIPA UNS (harapannya ketemu elektro, dan memang ketemu).

Alhamdulillah saya lulus dari Fisika UNS dengan tambahan ilmu di bidang IT dan bekerja pada sektor IT.

Saya tidak salah jurusan.

Bagaimana dengan Anda?

You Going Where? Mudik..

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Semoga Alloh menerima semua amal ibadah kita. Amin.

Arief & Keluarga

Pemerintahan Bermuka Dua

Penggusuran PKL menjadi hal yang biasa.

Seperti biasa, pelanggaraan terhadap perda, mengganggu ketertiban dan keindahan kota dijadikan alasan untuk penggusuran.

Seperti biasa pula, PKL membayar retribusi kepada pemerintah daerah.

Di beberapa warpel (warung tempel) di belakang UNS sudah dibangun permanen dan mempunyai meteran listrik dari PLN.

Mereka juga membayar retribusi kepada pemerintah daerah.

Bermuka dua, saya pikir sudah lebih dari cukup.

Dari Pendaftaran SMPB di UNS: Bule Nyeker?

Menurut sejumlah petugas Satpam yang berjaga di Auditorium UNS, para pendaftar seharusnya menggunakan sepatu dan berpakaian rapi pada saat mendaftar atau mengembalikan formulir. Karena pendaftaran SPMB Nasional adalah kegiatan resmi.
Namun ternyata, tidak sedikit pendaftar yang tidak bersepatu dan berpakaian rapi. Akhirnya, mereka yang tidak bersepatu diminta untuk melepas sepatu, dan nyeker saat mengembalikan formulir. Bahkan dari pantauan Espos, ada pula yang mengenakan sandal jepit. (Sumber: Solopos)

Kalau yang pakai sendal itu mahasiswa asing, plus kelihatan bule, disuruh nyeker juga ga?

Jadi inget temen kos saya dulu, pilih nyeker daripada ga boleh masuk ke perpustakaan pusat UNS.
Hebat kan..

Salut. Penuh perjuangan..

Kenapa Lampu Sign Ada di Kiri dan Kanan?

Jawabannya gampang..

Untuk menunjukkan kemana kita akan membelok, ke kiri atau ke kanan.

Namun praktiknya tidak segampang menjawab pertanyaan itu..

Belok kiri ga usah ngasih sign.. kan ga boleh mendahului dari kiri.. (Oh.. begitu ya.. sini tak garukin kepalamu pake gergaji !!!)

Kan belakang dan depan sepi.. jadi ga perlu ngasih tanda.. (Oh.. begitu ya.. sini tak bersihin matamu pake wortel  !!! Biar kamu bisa menghitung spion-mu ada berapa !!!)

Kalau menurut Anda, kenapa sih lampu sign ada di kiri dan kanan?

Memahami Porsi: Jangan Salahkan Penjaga Pintu Perlintasan Kereta Api Jika Anda Ketrabak Kereta

Hari Kamis (17/05/2007) kemarin, pas kebetulan hari libur (walaupun tidak dapat cuti nasional), saya pergi ke toko alumunium untuk membeli rel korden di daerah Widuran – Solo. Mendekati perempatan Panggung, sudah kelihatan bahwa ada antrian panjang kendaraan menuju pintu perlintasan KA di dekat Pom Bensin Ledoksari.

Wah, macet nih, bakalan lama. Tapi karena jalan yang lain harus memutar mendingan ikut ngantri saja, sambil lihat kereta lewat. Hehehehe.. soalnya kalau dari rumah cuma kedengeran suara kereta-nya dan suara tang ting tung dari horn-nya stasiun Jebres. Ditungguin lama kok ga nongol-nongol ya. Tapi ya santai saja, biasanya memang kalau baru ditutup, berarti kereta baru mulai berjalan dari stasiun Balapan. Tapi saya salah menduga. Pintu perlintasan sepertinya sudah ditutup lama, sehingga banyak pengendara motor yang mengklakson penjaga perlintasan agar membuka palang. Maklum juga sih cuaca panas.

Waktu saya noleh ke kanan, ternyata ada bendera kuning dan ada beberapa pekerja sedang membenahi rel KA. Sepertinya berkaitan dengan bantalan rel. Penjaga perlintasan keluar dari posnya dan mendekati para pekerja, tidak jelas apa yang mereka katakan, tetapi sepertinya meyakinkan apakah rel sudah bisa dilewati. Dua kali dia bolak-balik ke pos dan saat dia akan kembali ke pos setelah melakukan pengecekan, ada seorang pengendara motor yang meneriakinya. Tidak jelas yang diteriakkan, tetapi ada kata umpatan yang benar-benar terdengar jelas yaitu “A*U”. Si penjaga pun menoleh dan berkata sesuatu, tapi segera dia kembali ke pos. Tidak lama kemudian, sebuah rangkaian KA bergerak perlahan mendekati perlintasan, dan saya lihat tepat di daerah yang sedang dibenahi, gerbong KA terlihat miring.

KA dengan sukses melintasi perlintasan menuju ke Stasiun Jebres yang berjarak kurang lebih 200 m dari perlintasan. Penjaga perlintasan membuka pintu perlintasan, si pengendara motor itupun segera tancap gas, dan saya pun menyempatkan diri melihat wajahnya.

Memahami Porsi

Ini bukan masalah porsi makan atau minum, tetapi memahami porsi pekerjaan dan bagaimana orang laian bekerja untuk keselamatan kita. Coba bayangkan kalau misalnya si penjaga perlintasan membukakan pintu hanya untuk menuruti bapak emosional yang tidak tahu cara berbicara dengan bahasa manusia itu. Pastilah bakalan kacau, bisa jadi ada yang ketabrak kereta, atau ada yang menabrak kereta.

Saya yakin bahwa si petugas harus menutup pintu lebih awal karena dia perlu mengetahui apakah rel sudah aman untuk dilalui dan memberikan informasinya ke stasiun sebelumnya (Balapan). Jika tidak dikonfirmasi, bagaimana kalau kereta terguling atau keluar lintasan? Siapa yang bertanggung jawab? Ujung-ujungnya si penjaga juga yang kena kan?

Sering kita tidak bisa melihat porsi pekerjaan orang lain, atau orang lain tidak bisa melihat porsi pekerjaan kita. Kita melihat pekerjaan orang lain itu enak, bisa santai, dapat bonus, gaji gedhe. Tapi tidak melihat tanggung jawab dan level pekerjaan orang itu. Atau mungkin orang lain melihat kita bekerja sedemikian enak, dapat libur, bonus, gaji gedhe, cuma di depan komputer saja, tetapi tidak melihat bahwa apa yang kita lakukan sebenarnya untuk memperingan dan mempermudah pekerjaan mereka.

Jadi memahami porsi itu penting, dan saya harus berusaha memahami porsi saya dan porsi orang lain agar tidak memakan jatah orang lain. Apakah Anda sudah memahami porsi diri Anda dan orang lain?

Orang jawa bilang “Wang Sinawang“… Saling Melihat